Archive for the month “February, 2013”

2013 Turkey FIFA U-20 World Cup Cities: Rize

Tulisan kali ini akan memenuhi janji di kalimat terakhir pada tulisan sebelumnya, yang akan membahas venues Piala Dunia U-20 tahun 2013 di negaranya Hakan Şükür. Kalender turnamen 2013 FIFA U-20 World Cup ini akan bergulir mulai dari tanggal 21 Juni hingga 13 Juli. Tujuh kota telah ditunjuk sebagai tempat penyelenggaraan Piala Dunia U-20 edisi ke sembilan belas kali ini. Kota-kota tersebut adalah Rize, Trabzon, Gaziantep, Kayseri, Antalya, Bursa, dan Istanbul. Edisi pertama kali ini akan diawali dari kota penyelenggaraan paling timur: Rize.

Yeni Rize Şehir Stadı 02_dodaj.rs

Yeni Rize Şehir Stadı – sumber: dodaj.rs

Provinsi Rize terletak di wilayah timur Laut Hitam, dengan lanskap lembah, pegunungan, padang rumput, dataran tinggi, dan danau menjadikan daerah ini sebagai salah satu destinasi pariwisata di Turki. Keadaan geografis di Rize juga menawarkan pengalaman terbaik untuk melakukan olahraga kano dan rafting. Satu lagi ciri khas yang amat sangat terkenal dari kota ini, komoditi yang sangat diunggulkan dari provinsi ini adalah teh. Dengan perkebunan-perkebunan teh yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia, Rize merupakan pusat produksi teh di Turki. Berbicara sepakbola di region Eropa, Turki termasuk salah satu tim besar anggota konfederasi UEFA (dengan kondisi geografis terletak di benua Eropa dan Asia, mungkin Turki akan menjadi macan Asia bila bergabung dengan konfederasi AFC, tapi kualitas lawan di zona Eropa pastinya lebih menantang untuk perkembangan sepakbola negeri ini). Masih segar di ingatan ketika mereka meraih tempat ketiga di Piala Dunia tahun 2012 dengan menyingkirikan salah satu tuan rumah kala itu: Korea Selatan.

Yeni Rize Sehir Stadyumu - sumber: gscimbom.com

Yeni Rize Sehir Stadyumu – sumber: gscimbom.com

Sebagai salah satu kota penyelenggara Piala Dunia U-20 tahun 2013, Rize mempunyai klub sepakbola lokal yang direpresentasikan oleh Çaykur Rizespor Kulübü, lebih dikenal dengan nama Rizespor. Nama yang sangat asing di telinga bila disandingkan dengan nama-nama besar semacam Galatasaray, Beşiktaş, dan Fenerbahçe. Terang saja, musim 2006/2007 adalah keikutsertaan terakhir Rizespor di Süper Lig, kompetisi sepakbola tertinggi di Turki. Seteleh degradasi di akhir musim sampai dengan saat ini, The Black Sea Sparrowhawk masih bermain di kasta kedua liga Turki, TFF First League. Klub yang pernah diperkuat Freddy Adu the woderkid di tahun 2011 ini tercatat pernah mengikuti Piala Intertoto pada penyelenggaraan tahun 2001. Pada tahun dimana Aston Villa, Paris Saint-Germain, dan Troyes menjadi jawara itu, langkah mereka terhenti di putaran kedua dengan disingkirkan oleh klub dari Republik Macedonia: FK Pobeda. Sempat mencetak gol tandang pada pertemuan pertama di kandang lawan, tak menghindarkan mereka dari kekalahan 1-2. Seminggu kemudian, dengan disaksikan hanya 951 pasang mata (jika dibandingkan antara jumlah penonton pada first leg, maka second leg ini hanya dihadiri enam belas persen nya saja), mereka harus menyerah dengan agregat 1-4.

Yeni Rize Şehir Stadı - sumber: dodaj.rs

Yeni Rize Şehir Stadı – sumber: dodaj.rs

Çaykur sendiri adalah nama dari sebuah perusahaan produksi teh di Turki yang telah menyeponsori klub sejak tahun 1990. Pada masa awal-awal berdirinya klub di tahun 1953, warna hijau kuning dipakai sebagai warna kostum sampai dengan pada tahun 1968 sejak mendapatkan status klub sepakbola profesional, mereka mengubah warna kebesaran menjadi biru hijau sampai dengan saat ini. Dengan pertimbangan kapasitas hanya 10.459 tempat duduk, Rize Atatürk Stadium ditinggalkan sebagai markas klub dan beralih ke bangunan stadion yang baru mulai dibangun pada Desember 2007, Yeni Rize Şehir Stadı. Pertandingan seremonial melawan Fenerbahçe menandai diresmikannya stadion baru ini pada Agustus 2009. Stadion modern dengan standar UEFA ini berkapasitas 15.197 tempat duduk, 277 kursi VIP, dan delapan puluh empat kursi pers. (soe)

Yeni Rize Şehir Stadı - sumber: caykurrizespor.org.tr

Yeni Rize Şehir Stadı – sumber: caykurrizespor.org.tr

Advertisements

Turnamen Penanda Akil Baligh

Selain berkebangsaan Argentina, apalagi yang identik dari Javier Saviola, Lionel Messi, dan Sergio Agüero? Awal karir mereka di Argentina. Ya betul, walaupun awal karir Messi di Newell’s Old Boys cuma dihitung karir junior bukan senior. Ayo……. apalagi? Mereka pernah bermain di La Liga Spanyol. Oke… bisa diterima. Kedua kesamaan tadi belum spesifik dan sesuai dengan tema tulisan kali ini. Baiklah, kesamaan mereka bertiga adalah bahwa ketiganya adalah peraih Golden Ball dan Golden Shoe dalam satu penyelenggaraan yang berasal dari Argentina di turnamen Piala Dunia U-20 yang tahun penyelenggaraannya di atas tahun 2000. Javier Saviola di tahun 2001, Lionel Messi di tahun 2005, dan Sergio Agüero di tahun 2007.

Apakah paragraf pertama terasa sangat basa-basi sekali? Setelah saya baca kembali: IYA. Padahal maksudnya untuk mengantarkan pernyataan bahwa Piala Dunia U-20 yang digagas FIFA ini semacam pre school buat pemain-pemain junior naik jenjang ke kelas senior. Bila diperhatikan lebih seksama sebagai peraih Golden Shoe, maka dibawah nama Javier Saviola akan ditemukan nama seorang Adriano yang doyan party di urutan kedua dan si nyentrik Djibril Cissé di posisi ketiga pada saat penyelenggaraan turnamen ini di Argentina pada tahun 2001. Lain lagi, ketika dihelat di Belanda pada tahun 2005 saat Lionel Messi mendapat Golden Ball, maka pada saat yang sama Fernando Llorente kebagian Bronze Ball. Saat Sergio Agüero jadi topskor di Canada 2007, tepat dibawahnya ada Adrián López yang mendapat Silver Ball. Turnamen ini terasa bagaikan ujian akhir bagi pemain-pemain muda menuju kematangan di tim senior. Mungkin dengan alasan sebagai puncaknya dari pembinaan pemain muda, sehingga FIFA menyelenggarakannya dua tahun sekali.

Apakah benar bahwa turnamen ini adalah penanda “akil baligh” karir seorang pesepakbola dari tingkatan junior menuju tingkatan senior? Bila diterawang dari segi nama turnamen dan acuannya adalah sebelum digelarnya turnamen ini pada tahun 2007, maka jawabannya iya. Karena sampai dengan penyelenggaraan pada saat Lionel Messi meraih Golden Ball dan Golden Shoe, nama turnamen ini masih FIFA World Youth Championship. Setingkat di bawah Piala Dunia. Nama turnamen diubah menjadi FIFA U-20 World Cup pada penyelenggaraan di Canada tahun 2007. Siapa saja para pemain yang mengalami “akil baligh” karir di turnamen ini? Marilah dibagi menjadi dua kategori untuk menggolongkan pemain-pemain tersebut. Kategori pertama: pemain yang termasuk tiga pemain terbaik turnamen dan kedua: pemain yang termasuk tiga pencetak gol terbanyak turnamen.

1987 FIFA World Youth Championship_fifa.com

Robert Prosinečki (tengah) sumber: fifa.com

Sebagai contoh di kategori pertama ada nama Robert Prosinečki, anak 90-an pasti tau kan 🙂 Dia adalah pemain terbaik turnamen pada tahun 1987 di Chile. Seusai turnamen, Prosinečki ditransfer Red Star Belgrade dari Dinamo Zagreb setelah belajar selama 6 tahun di tim yunior Dinamo Zagreb sejak umur sebelas tahun dan setahun di tim senior. Pada masa itu Red Star Belgrade adalah tim besar di Eropa. Kehadirannya selama tahun 1987 sampai dengan 1991 turut mendatangkan tiga gelar juara Liga Primer Yugoslavia, satu gelar Marshal Tito Cup, satu gelar  Piala Champion (sekarang: Liga Champion) dan satu gelar Piala Toyota (sekarang: Piala Dunia Antar klub). Dalam perjalanan Red Star meraih Piala Champion, disana ada empat gol Prosinečki: dua penalti saat melawan Grasshopper, satu gol saat menggilas Glasgow Rangers 3-0, dan satu gol saat menggulung Dynamo Dresden di quarter-finals. Satu gol Prosinečki yang turut memastikan Piala Champion mendarat di tanah Yugoslavia dan menebalkan semangat Siniša Mihajlović menjadi penendang keempat penalti adalah saat ia menjadi penendang pertama pada adu penalti di final melawan Olympique Marseille, dimana penendang pertama Marseille gagal. Prosinečki yang merupakan pemain tengah hanya kalah dua gol dari seorang striker bernama Jean-Pierre Papin yang agak terobati kekalahannya di final dengan menjadi topskor turnamen karena enam golnya. Keberhasilan sebagai jawara Eropa mempertemukan  Red Star dengan jawara Amerika Selatan saat itu, Colo Colo, di Piala Toyota. Prosinečki turut andil dalam kemenangan 3-0 ini, dimana pada saat itu Red Star unggul 1-0 sampai menit ke-41 ketika  Dejan Savićević diusir wasit pada menit ke-42. Mungkin satu-satunya kesedihan Prosinečki hanya saat Red Star ditundukkan jawara Piala UEFA saat itu dalam perebutan Piala Super Eropa. Di pertandingan tersebut anak asuh Alex Ferguson melesakkan satu gol, sementara Red Star tak mampu melewati garis gawang Peter Schmeichel yang disokong bek sekaliber Denis Irwin, Gary Pallister, dan Steve Bruce sebagai kapten. Sebagai pemain cadangan yang masuk menggantikan Lee Martin, betapa masih sangat unyu-nya Ryan Giggs saat itu 🙂 Pemain lain di kategori ini antara lain Diego Maradona, Zvonimir Boban, Giovanni Élber, Marcelo Zalayeta, Andrés D’Alessandro, Daniel Alves, John Obi Mikel, dan Giovani dos Santos.

Di kategori kedua ada nama Adriano Leite Ribeiro yang mencetak enam gol di tahun 2001 ketika turnamen diselenggarakan di Argentina. Sejak saat itu, Adriano adalah properti hangat dari Brasil. Meninggalkan Flamengo menuju Internazionale adalah pilihan karirnya. Sempat dipinjamkan ke Fiorentina, karir Adriano memuncak saat dua musim membela Parma berduet bersama Adrian Mutu di lini depan. Dari tahun penyelenggaraan yang sama, Javier Saviola segera ditransfer Barcelona dari River Plate setelah meraih Golden Ball di turnamen ini. Dengan skill mumpuni dan dilabeli prospek fenomenal saat itu, tak menjauhkan Saviola dari nasib yang kurang baik. Selama membela Barcelona dalam kurun waktu 2001 hingga 2007, di tahun keempat kebersamaan ia dipinjamkan ke runner-up Liga Champion saat itu: Monaco. Setahun di Monaco, Saviola kembali dipinjamkan ke Sevilla selama satu musim sebelum akhirnya ia disodori kontrak bermain di Real Madrid. Prospek selanjutnya adalah Lionel Messi. Ah… beliau sudah banyak dibahas dimana-mana, bila masih penasaran dengan rekam jejak karir La Pulga sampai saat ini silahkan Anda cari sendiri. Yang pasti imbas dari penampilan Messi di Belanda tahun 2005 adalah naik pangkatnya ia ke tim senior Barcelona setelah satu musim di Barcelona B dan di Barcelona C di musim sebelumnya lagi. Dominic Adiyiah adalah peraih Golden Ball tahun 2009 saat turnamen dihelat di Mesir dengan delapan golnya. AC Milan terpincut untuk segera mendatangkan bakat alami Ghana yang dipoles di akademi Feyenoord sejak umur 10 tahun ini. Mengalami nasib serupa dengan Saviola, semenjak dibeli AC Milan tak sekali pun Adiyiah bermain untuk tim yang berbasis di kota mode Italia ini. Terhitung empat klub jadi pelabuhannya di masa  peminjaman, dari Reggina sampai akhirnya dibeli Arsenal Kyiv setelah menjalani empat pertandingan di masa peminjaman. Nama lain yang bersinar di kategori ini antara lain: Oleg Salengko, Matthias Sammer, Davor Šuker, Sonny Anderson, David Trezeguet, dan Nuno Gomes. Dan produk paling anyar adalah Oscar dos Santos Emboaba Júnior, sebagai penyelamat Brazil di final 2011 melawan Portugal dengan gol di menit ke-111 pelengkap hattrick-nya malam itu, berhasil menggoda Chelsea mendatangkan bakat Brasil ini di musim panas 2012 dari Internacional.

2013 FIFA U-20 World Cup Logo_en.wikipedia.org

2013 FIFA U-20 World Cup Logo sumber: en.wikipedia.org

Sampai dengan perhelatan terakhir di Kolombia pada tahun 2011, terhitung sudah delapan belas kali Piala Dunia U-20 diselenggarakan yang diawali di Tunisia pada tahun 1977. Sebaran gelar terbagi kepada Argentina sebanyak enam gelar juara, Brazil lima, Portugal dua, dan Uni Soviet, Yugoslavia, Jerman, Spanyol dan Ghana masing-masing satu gelar. Dua negara anggota konfederasi Asia (AFC) yang pernah menjadi finalis di turnamen ini adalah Qatar di tahun 1981 dan Jepang di tahun 1999. Sedangkan negara-negara anggota konfederasi Oceania (OCF) belum pernah menjadi finalis di kejuaraan ini, namun Australia adalah peringkat keempat di tahun 1991 dan 1993. Edisi ke sembilan belas Piala Dunia U-20 akan digelar tahun ini di Turki dari tanggal 21 Juni hinggal 13 Juli. Selagi menunggu dimulainya perhelatan dimulai, segera menyusul artikel yang akan membahas kota-kota di Turki yang telah ditunjuk sebagai venue pertandingan. (soe)

2014 Brasil FIFA World Cup Venues: Estádio Beira-Rio

Gelaran Piala Dunia yang akan dihelat di Brasil masih satu tahun lebih lagi. Kota-kota penyelenggara sudah mulai bersolek diri mempersiapkan penyambutan tiga puluh dua peserta. Salah satunya persiapan dari segi infrastruktur, stadion. Ada dua belas kota penyelenggara yang sudah ditunjuk, membentang dari selatan ke utara Brasil. Artikel kali ini akan dibagi menjadi beberapa seri yang akan mengajak kita untuk berkenalan dengan kedua belas venue di 2014 Brasil FIFA World Cup tahun depan. Seri pertama ini akan dimulai dari sisi selatan Brasil dan seri terakhir akan berujung di sisi utara Brasil.

Kota penyelenggara pertama adalah PORTO ALEGRE. Tersebutlah para pelaut-pelaut dari kepulauan Azores Portugal yang telah berjasa mendirikan kota Porto Alegre pada tahun 1772. Porto Alegre merupakan kota nomor sepuluh terpadat di Brazil. Ibukotanya, Rio Grande do Sul, merupakan tujuan para imigran dari Portugal, Italia, Jerman, dan Polandia serta negara-negara Eropa lainnya. Dengan luas wilayah 497 kilometer persegi yang ditumbuhi lebih dari satu juta pohon menjadikan Porto Alegre salah satu kota terhijau di Brazil.

Sepakbola di Porto Alegre sangat identik dengan dua klub besar disana: Grêmio Foot-Ball Porto Alegrense dan Sport Club Internacional. Jika Grêmio adalah awal karir dari Ronaldo de Assis Moreira a.k.a. Ronaldinho Gaúcho dan Émerson Ferreira da Rosa, maka Internacional adalah awal perjalanan karir Cláudio André Mergen Taffarel dan Alexandre Rodrigues da Silva alias Pato.  Soal gelar, Grêmio dan Internacional memiliki sejumlah gelar nasional dan internasional. Gremio punya koleksi dua trofi Campeonato Brasileiro (1981 dan 1996), empat trofi Copa do Brasil (1989, 1994, 1997, dan 2001), dua trofi Copa Libertadores (1983 dan 1995) dan satu trofi Piala Toyota (1983). Sementara lemari trofi Internacional berisikan antara lain tiga trofi Campeonato Brasileiro (1975, 1976 dan 1979), satu trofi Copa do Brasil ( 1992), dua trofi Libertadores (2006 dan 2010), satu trofi FIFA Club World Cup (2006), dan satu trofi Copa Sudamericana (2008).

Grêmio, yang akan berumur seratus sepuluh tahun pada September 2013, pada awalnya bermarkas di Estádio Olímpico Monumental. Pertandingan melawan Nacional dari Uruguay pada 19 September 1954 menjadi pembukaan resmi stadion dengan kapasitas tiga puluh delapan ribu penonton ini. Salah satu kenangan manis Grêmio disini adalah saat mengalahkan Peñarol, iya betul mantan klubnya Syamsir Alam,  dalam final Copa Libertadores tahun 1983. Stadion ini termasuk golongan multi fungsi. Tercatat beberapa musisi beken pernah manggung disini, diantaranya Lenny Kravitz, Eric Clapton, Rod Stewart, Sting, sampai Madonna. Penampilan Madonna pada 9 Desember 2012 menjadi event terakhir yang diselenggarakan di stadion ini. Sehari sebelumnya di sudut lain kota Porto Alegre berlangsung friendly match antara Grêmio melawan Hamburg di Arena do Grêmio yang dimenangkan tuan rumah dengan skor 2-1. Pertandingan ini sekaligus meresmikan Arena do Grêmio sebagai rumah baru Grêmio menggantikan Estádio Olímpico Monumental yang dinilai sudah tidak layak dikarenakan umur bangunan yang sudah tua, biaya perawatan yang mahal, kurangnya lahan parkir, lokasi yang berada di daerah pemukiman penduduk, serta standar kenyamanan, keamanan, dan pelayanan yang rendah. Kemenangan 3-2 Ronaldo’s XI melawan Zidane’s XI di pertandingan amal Match Against Poverty pada 19 Desember 2012 pun digelar di stadion baru ini. Arena do Grêmio menghelat pertandingan resmi pertamanya pada tanggal 30 Januari 2013 ketika Grêmio menang adu penalti dalam pertandingan Copa Libertadores melawan LDU Quito, setelah masing-masing tuan rumah menang 1-0. Tapi, bukan Arena do Grêmio yang mewakili kota Porto Alegre sebagai stadion penyelenggara FIFA World Cup 2014, melainkan stadion kepunyaan Internacional: Estádio José Pinheiro Borda yang lebih dikenal dengan nama Estádio Beira-Rio.

Bernasib yang sama dengan Arena do Grêmio yang merupakan stadion pengganti bagi Grêmio, Estádio José Pinheiro Borda merupakan stadion pengganti kandang Internacional sebelumnya: Estádio dos Eucaliptos. Dengan pertimbangan kapasitas stadion yang sedikit, maka dimulailah pembangunan stadion baru di tepi sungai Guaiba hasil dari sumbangan pemerintah kota. Dikarenakan letaknya yang berada di tepi Sungai Guaiba inilah Estádio Beira-Rio juga dikenal dengan nama Riverside Stadium. Pembangunan Estádio Beira-Rio dimulai pada akhir 1959. Kabarnya, dengan minimnya dana Internacional pada saat itu, maka pembangunan juga bergantung pada kemurahan hati para fans yang memberikan bantuan berupa semen, batu bata, besi sampai tenaga. Bahkan, katanya sampai ada sebuah program radio yang khusus untuk memobilisasi pendukung untuk turut andil dalam pembangunan stadion ini. Akibatnya, pembangunan berjalan sangat lambat dan butuh waktu satu dekade untuk menyelesaikannya. Akhirnya Beira-Rio diresmikan pada hari Minggu 6 April 1969, tepat dua hari dan 60 tahun setelah berdirinya Inter. Peresmian dimeriahkan dengan kemenangan Internacional melawan Benfica dengan skor 2-1. Dinamakan Estádio José Pinheiro Borda guna menghormati jasa seorang insinyur asal Portugal yang turut mengawasi pembangunan stadion namun meninggal sebelum rampung pembangunannya. Merupakan stadion terbesar di wilayah selatan Brasil, stadion ini pun dijuluki O Gigante.

Estádio Beira-Rio - sumber: international.com.br

Estádio Beira-Rio – sumber: international.com.br

Estádio Beira-Rio - sumber: international.com.br

Estádio Beira-Rio – sumber: international.com.br

Setelah terpilih menjadi salah satu venue penyelenggaraan Piala Dunia 2014, segera berbagai perbaikan bangunan dan renovasi dilaksanakan guna memenuhi standar internasional. Renovasi stadion ini telah dimulai sejak Desember 2012 dan diharapkan segera rampung di akhir tahun 2013, namun sempat terdengar kabar terkait isu pendanaan.  Proyek renovasi ini menitikberatkan pada pembangunan eksterior dan pemasangan atap metal inovatif . Stadion berkapasitas lima puluh enam ribu tempat duduk ini memiliki berbagai fasilitas seperti toko, bar, pusat kebugaran, lapangan tenis dan kolam renang. Selama Piala Dunia 2014, Estádio Beira-Rio akan menjadi tuan rumah lima pertandingan. (soe)

(Masih) Bukan Three Stripes, Juga Swoosh

Adidas dan Nike, dua brand apparel yang menurut saya telah lama berbagi peraduan dalam pergumulan dengan olahraga sepakbola. Dua brand yang menjadi pasangan sekaligus pihak ketiga-nya apparel sepakbola. Eksistensi mereka sebagai kit manufacturer di lapangan hijau tak ada yang menyangsikan. Inovasi dan teknologi adalah dua kata yang dekat melekat ketat pada dua brand ini. Cukup empat kalimat sebagai pengantar, karena artikel ini tidak akan hanya membahas baik Three Stripes maupun Swoosh.

Apakah begitu lancang meninggalkan duo ini  ketika membahas kit manufacturer sepakbola di musim 2012-2013? Tidak.

Namun, setelah saya pikir kembali, betapa tidak sopannya jika membuka pembahasan ini tanpa melihat sebentar statistik duo ini. Mengambil sampel lima liga di Eropa: BPL, Serie A, Liga BBVA, Bundesliga, dan Ligue 1 dengan total 98 klub, berdasarkan perhitungan statistik kecil-kecilan, saya dapati bahwa duo ini masih mendominasi di lima liga ini dengan enam belas persen “kue” untuk Adidas dan lima belas persen untuk Nike. Artinya sebanyak enam belas klub disponsori Adidas dan lima belas klub disponsori Nike. Tetapi tidak di semua liga tersebut mereka berjaya. Adidas hanya mendapat “kue” kecil di Liga BBVA. Bahkan keduanya adalah anak bawang di Serie A Italia. Mari kita bahas lebih rinci dengan menyiapkan roti dan kopi, tak lupa bukalah hati berkenalan dengan kit manufacturer lain yang mewarnai lapangan hijau sampai saat ini.

BPL musim 2012-2013 diwarnai dengan berseliwerannya sebelas kit manufacturer diantara dua puluh klub. Tuan rumah diwakili Umbro yang melekat di sebelah emblem Manchester City dan Southampton, sedangkan MiFit di jersey Wigan Athletic. Porsi “kue” yang kecil, lima belas persen, untuk ukuran tuan rumah. Chelsea, Stoke City, Sunderland, Swansea City, dan West Bromwich Albion adalah seperempat klub BPL yang di jersey mereka terdapat logo Three Stripes. Sedangkan logo Swoosh hanya bisa ditemukan di jersey Arsenal, Everton, dan Manchester United. Sisa empat puluh lima persen “kue” lainnya, terdistribusi sebanyak masing-masing dua klub bersama Macron dan Puma serta masing-masing satu klub dengan Errea, Kappa, Lotto dan dua pendatang baru di BPL: Warrior dan Under Armour.

Kondisi serupa ditemui di Ligue 1 2012-2013. Sebelas kit manufacturer, namun tuan rumah yang kebagian kue hanya satu: Duarig, di jersey yang dipakai Adrian Mutu, Ajaccio, dan Troyes. Terus, yang menguasai kit di Ligue 1? Adidas, Nike, dan Kappa yang nempel di masing-masing tiga klub. Three Stripes di jersey Lyon, Marseille, dan Saint-Étienne. Swoosh di jersey Brest, Montpellier, dan Paris Saint-Germain. Sedangkan Kappa dipakai oleh Bastia, Evian, dan Toulouse. Dan akhirnya Puma, Umbro, Macron, Lotto, Burrda, Hummel serta Uhlsport melengkapi invasi enam negara asal kit manufacturer di luar Perancis yaitu Amerika Serikat, Denmark, Jerman, Inggris, Italia, dan Swiss.

Adapun selain mendominasi di luar kandang, Adidas pun merajai kit di dalam negeri. Di Bundesliga hanya ada lima kit manufacturer yang nampang: Adidas, Puma, Jako, Nike, dan Lotto. Tiga nama pertama adalah produk dalam negeri. Sebaran kuenya: tiga puluh tiga persen  Adidas dan masing-masing dua puluh dua persen untuk Puma dan Jako. Nike cuma kebagian mejeng di jersey 1. FSV Mainz 05, SC Freiburg, dan Werder Bremen. Hanya Borussia Mönchengladbach yang membalut diri dengan Lotto.

Enam kit manufacturer lokal bermain di Serie A Italia musim 2012-2013: Kappa, Macron ,Errea, Givova, Lotto, dan Legea. Seperempat klub di Serie A memajang logo Kappa di jersey mereka: Cagliari, Roma, Sampdoria, Siena, dan Torino. Disusul Errea dan Macron yang bekerjasama dengan masing-masing tiga klub. Givova kebagian nampang di kostum Catania dan Chievo. Legea bersama Udinese dan Lotto dengan Genoa. Kit manufacturer dari luar Italia hanya Puma, Joma, Adidas, dan Nike. Cuma nama terakhir yang bekerjasama dengan lebih dari satu klub: Internazionale dan Juventus. Tiga nama pertama mejeng dengan berurutan Palermo, Fiorentina, dan AC Milan. See, kenapa di paragraf sebelumnya saya sebut Nike dan Adidas anak bawang di Serie A Italia.

Terbanyak dibanding empat liga lainnya, ada empat belas kit manufacturer di Liga BBVA yang berasal dari enam negara yang berbeda. Nike, Macron, Umbro, Adidas, Errea, Kappa, Lotto, Puma, Li Ning, Joma, Luanvi, Kelme, Astore, dan Mercury. Barisan produk dalam negeri diwakili oleh lima nama terakhir. Nike masih mendominasi di La Liga musim ini dengan bekerjasama dengan Atlético Madrid, Barcelona, Málaga, dan Real Sociedad. “Kue” kecil buat Adidas yang saya maksud di atas karena hanya di jersey Real Madrid dapat ditemukan logo Three Stripes di Liga BBVA.

Kesimpulannya: penguasaan kit manufacturer lokal terbanyak ada di Serie A Italia dan Bundesliga, menyisakan hanya empat puluh persen bagi produk luar. Porsi kit manufacturer lokal di Ligue 1 hanya sembilan persen, paling minim diantara empat liga lainnya. Adidas, Nike, Kappa, dan Puma adalah empat kit manufacturer yang paling banyak bekerjasama dengan klub di lima liga sampel. Namun, Lotto menggeser Kappa dari daftar kit manufacturer yang nampang di semua liga sampel, lainnya: Adidas, Nike dan Puma. Dari semua data diatas, saya berharap semoga judul yang diberikan tidak salah bahwa yang memenangkan persaingan ini (masih) bukan three stripes, juga swoosh. (soe)

Post Navigation

%d bloggers like this: