(Masih) Bukan Three Stripes, Juga Swoosh

Adidas dan Nike, dua brand apparel yang menurut saya telah lama berbagi peraduan dalam pergumulan dengan olahraga sepakbola. Dua brand yang menjadi pasangan sekaligus pihak ketiga-nya apparel sepakbola. Eksistensi mereka sebagai kit manufacturer di lapangan hijau tak ada yang menyangsikan. Inovasi dan teknologi adalah dua kata yang dekat melekat ketat pada dua brand ini. Cukup empat kalimat sebagai pengantar, karena artikel ini tidak akan hanya membahas baik Three Stripes maupun Swoosh.

Apakah begitu lancang meninggalkan duo ini  ketika membahas kit manufacturer sepakbola di musim 2012-2013? Tidak.

Namun, setelah saya pikir kembali, betapa tidak sopannya jika membuka pembahasan ini tanpa melihat sebentar statistik duo ini. Mengambil sampel lima liga di Eropa: BPL, Serie A, Liga BBVA, Bundesliga, dan Ligue 1 dengan total 98 klub, berdasarkan perhitungan statistik kecil-kecilan, saya dapati bahwa duo ini masih mendominasi di lima liga ini dengan enam belas persen “kue” untuk Adidas dan lima belas persen untuk Nike. Artinya sebanyak enam belas klub disponsori Adidas dan lima belas klub disponsori Nike. Tetapi tidak di semua liga tersebut mereka berjaya. Adidas hanya mendapat “kue” kecil di Liga BBVA. Bahkan keduanya adalah anak bawang di Serie A Italia. Mari kita bahas lebih rinci dengan menyiapkan roti dan kopi, tak lupa bukalah hati berkenalan dengan kit manufacturer lain yang mewarnai lapangan hijau sampai saat ini.

BPL musim 2012-2013 diwarnai dengan berseliwerannya sebelas kit manufacturer diantara dua puluh klub. Tuan rumah diwakili Umbro yang melekat di sebelah emblem Manchester City dan Southampton, sedangkan MiFit di jersey Wigan Athletic. Porsi “kue” yang kecil, lima belas persen, untuk ukuran tuan rumah. Chelsea, Stoke City, Sunderland, Swansea City, dan West Bromwich Albion adalah seperempat klub BPL yang di jersey mereka terdapat logo Three Stripes. Sedangkan logo Swoosh hanya bisa ditemukan di jersey Arsenal, Everton, dan Manchester United. Sisa empat puluh lima persen “kue” lainnya, terdistribusi sebanyak masing-masing dua klub bersama Macron dan Puma serta masing-masing satu klub dengan Errea, Kappa, Lotto dan dua pendatang baru di BPL: Warrior dan Under Armour.

Kondisi serupa ditemui di Ligue 1 2012-2013. Sebelas kit manufacturer, namun tuan rumah yang kebagian kue hanya satu: Duarig, di jersey yang dipakai Adrian Mutu, Ajaccio, dan Troyes. Terus, yang menguasai kit di Ligue 1? Adidas, Nike, dan Kappa yang nempel di masing-masing tiga klub. Three Stripes di jersey Lyon, Marseille, dan Saint-Étienne. Swoosh di jersey Brest, Montpellier, dan Paris Saint-Germain. Sedangkan Kappa dipakai oleh Bastia, Evian, dan Toulouse. Dan akhirnya Puma, Umbro, Macron, Lotto, Burrda, Hummel serta Uhlsport melengkapi invasi enam negara asal kit manufacturer di luar Perancis yaitu Amerika Serikat, Denmark, Jerman, Inggris, Italia, dan Swiss.

Adapun selain mendominasi di luar kandang, Adidas pun merajai kit di dalam negeri. Di Bundesliga hanya ada lima kit manufacturer yang nampang: Adidas, Puma, Jako, Nike, dan Lotto. Tiga nama pertama adalah produk dalam negeri. Sebaran kuenya: tiga puluh tiga persen  Adidas dan masing-masing dua puluh dua persen untuk Puma dan Jako. Nike cuma kebagian mejeng di jersey 1. FSV Mainz 05, SC Freiburg, dan Werder Bremen. Hanya Borussia Mönchengladbach yang membalut diri dengan Lotto.

Enam kit manufacturer lokal bermain di Serie A Italia musim 2012-2013: Kappa, Macron ,Errea, Givova, Lotto, dan Legea. Seperempat klub di Serie A memajang logo Kappa di jersey mereka: Cagliari, Roma, Sampdoria, Siena, dan Torino. Disusul Errea dan Macron yang bekerjasama dengan masing-masing tiga klub. Givova kebagian nampang di kostum Catania dan Chievo. Legea bersama Udinese dan Lotto dengan Genoa. Kit manufacturer dari luar Italia hanya Puma, Joma, Adidas, dan Nike. Cuma nama terakhir yang bekerjasama dengan lebih dari satu klub: Internazionale dan Juventus. Tiga nama pertama mejeng dengan berurutan Palermo, Fiorentina, dan AC Milan. See, kenapa di paragraf sebelumnya saya sebut Nike dan Adidas anak bawang di Serie A Italia.

Terbanyak dibanding empat liga lainnya, ada empat belas kit manufacturer di Liga BBVA yang berasal dari enam negara yang berbeda. Nike, Macron, Umbro, Adidas, Errea, Kappa, Lotto, Puma, Li Ning, Joma, Luanvi, Kelme, Astore, dan Mercury. Barisan produk dalam negeri diwakili oleh lima nama terakhir. Nike masih mendominasi di La Liga musim ini dengan bekerjasama dengan Atlético Madrid, Barcelona, Málaga, dan Real Sociedad. “Kue” kecil buat Adidas yang saya maksud di atas karena hanya di jersey Real Madrid dapat ditemukan logo Three Stripes di Liga BBVA.

Kesimpulannya: penguasaan kit manufacturer lokal terbanyak ada di Serie A Italia dan Bundesliga, menyisakan hanya empat puluh persen bagi produk luar. Porsi kit manufacturer lokal di Ligue 1 hanya sembilan persen, paling minim diantara empat liga lainnya. Adidas, Nike, Kappa, dan Puma adalah empat kit manufacturer yang paling banyak bekerjasama dengan klub di lima liga sampel. Namun, Lotto menggeser Kappa dari daftar kit manufacturer yang nampang di semua liga sampel, lainnya: Adidas, Nike dan Puma. Dari semua data diatas, saya berharap semoga judul yang diberikan tidak salah bahwa yang memenangkan persaingan ini (masih) bukan three stripes, juga swoosh. (soe)

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: