Tantangan Debutan untuk Mantan Debutan

Sesuai dengan judulnya, final UEFA Women’s Champions League (selanjutnya disebut WCL) kali ini akan menyuguhkan pertarungan antara sang debutan WCL, Tyresö, melawan jawara bertahan yang saat mendapatkan titel ini tahun lalu berstatus debutan. Pertarungan antara wakil Jerman dan Swedia ini adalah penyelenggaraan final WCL yang ketiga belas. Faktanya, sampai dengan final di musim ini, tidak ada satu pun final yang tidak pernah melibatkan klub-klub asal Jerman maupun Swedia.

Tyresö FF_unwomen.se

Tyresö FF – sumber: unwomen.se

Pada tulisan menjelang final tahun kemarin belum banyak dibahas mengenai penyelenggaraan WCL, dimana formatnya sangat berbeda dengan Champions League (selanjutnya disebut CL). WCL terdiri dari satu babak kualifikasi dengan format grup, empat putaran babak gugur yang berlangsung dua leg, dan satu babak final. Pada babak kualifikasi, klub-klub yang berasal dari liga dengan koefisien rendah dibagi ke dalam sepuluh grup yang diisi masing-masing empat klub. Pertandingan dilaksanakan di satu stadion salah satu peserta grup tersebut. Para pemuncak grup pada babak kualifikasi melenggang ke babak tiga puluh dua besar bersama dua puluh dua klub yang langsung lolos ke babak tersebut.

Babak tiga puluh dua besar ini adalah fase pertama dari empat putaran ke depan sebelum final: babak enam belas besar, quarter final, dan semifinal. Semuanya berlangsung dalam dua leg: kandang dan tandang. Babak final diselenggarakan di kota yang sama dengan pelaksanaan babak final Champions League (pria), namun dengan stadion yang berbeda. Jika final CL musim 2013/14 mengambil tempat di Estádio do Sport Lisboa e Benfica, tahun ini final WCL diselenggarakan di Estádio Do Restelo.

Final yang akan dipimpin oleh Kateryna Monzul dari Ukraina ini adalah kali kelima klub Jerman bertemu dengan klub Swedia. Namun bila dihitung dengan format baru: Women’s Champions League, ini adalah final pertama yang mempertemukan dua klub asal Jerman dan Swedia. Empat final sebelumnya, dimana final berlangsung kandang dan tandang (kecuali pada pelaksanaan perdana dimana final hanya dilangsungkan satu leg saja), masih dalam format lama yang bernama UEFA Women’s Cup.

Empat gelaran final tersebut hanya melibatkan empat klub. Dimana tiga pertandingan final selalu diwakili oleh 1. FFC Frankfurt dan Umeå IK: 2001/02, 2003/04, dan 2007/08. Pada pertemuan pertama di tahun 2002 yang merupakan gelaran perdana UEFA Women’s Cup, 1. FFC Frankfurt mengungguli Umeå IK dua gol tanpa balas. Di pertemuan kedua pada tahun 2004, Umeå IK membalas kekalahan pada final sebelumnya. Menang 3-0 di kandang serta menggunduli 1. FFC Frankfurt 5-0 saat melawat ke Jerman.

Empat tahun berselang, keadaan berulang, kedua tim bertemu kembali dan total tercipta tujuh gol pada dua pertemuan kandang dan tandang. Bila pada final sebelumnya Umeå IK yang mencetak semua gol (8 gol) kandang dan tandang, kali ini 1. FFC Frankfurt harus puas hanya unggul satu gol dimana hasil seri 1-1 saat bermain di Swedia dan menang 3-2 saat bermain di kandang. Satu final lagi yang melibatkan wakil Jerman dan Swedia adalah ketika 1. FFC Turbine Potsdam bertemu Djurgårdens IF pada final tahun 2005. Kala itu wakil Jerman unggul 2-0 di Stockholm dan menang 3-1 di kandang. Total dua puluh tiga gol tercipta dalam empat kali final tersebut.

Dalam perjalanan Wolfsburg menjadi juara di musim kemarin sempat bersua dengan wakil Swedia di babak enam belas besar. Kala itu FC Malmö dikalahkan baik saat tandang maupun kandang, dengan kemenangan 3-1 saat bermain di kandang yang melengkapi agregat menjadi 5-2. Sedangkan Tyresö belum pernah sekali pun bertemu dengan wakil Jerman di kompetisi ini. Bila Tyresö mampu mengalahkan Wolfsburg, maka Tyresö akan menjadi klub kedelapan yang memenangkan WCL dan klub kelima dalam sejarah WCL yang membawa pulang trofi saat menjalani debut. Empat klub sebelumnya berasal dari Jerman: 1. FFC Frankfurt, 1. FFC Turbine Potsdam, FCR 2001 Duisburg, dan Wolfsburg.

Perjalanan Tyresö menuju final diawali dari babak 32 besar, delapan pertandingan dijalani dengan memenangkan lima laga dan tak terkalahkan. Mencetak sembilan belas gol dan kemasukan tiga gol. Sektor penyerang menjadi tumpuan utama Tyresö menjebol gawang lawan. Tercatat 89,5% kontribusi lima penyerang Tyresö, dengan dua nama teratas: Christen Press (47,4%) dan sang pemenang lima kali FIFA Women’s World Footballer of the Year: Marta (26,3%). Dilengkapi dengan kontribusi masing-masing 5,3% dari pemain belakang dan tengah Tyresö.

Konbtribusi Gol

Konbtribusi Gol Tiap Lini Para Finalis – footiczs.com

Dengan jumlah pertandingan menuju final yang sama dengan lawannya, anak asuh Ralf Kellermann unggul jauh dengan mencetak 41 gol dan hanya kemasukan empat gol. Kontribusi tiap lini dalam mencetak gol agak merata dengan 56,1% dicetak oleh para penyerang, 34,1% dilakukan midfielders, dan 9,8% disumbangkan oleh pemain belakang.

Dengan membagi sembilan puluh menit plus waktu tambahan, maka akan didapat sepuluh rentang waktu untuk melihat waktu terciptanya gol pada kedua tim dalam perjalanan ke final. Tyresö mencetak gol paling banyak di rentang waktu menit ke ‘61 sampai ‘70. Empat gol tercipta pada rentang waktu tersebut. Diikuti kemudian dengan masing-masing tiga gol pada rentang menit ’21 sampai ’30 dan ’71 sampai ’80. Pencetak gol pada ketiga rentang waktu tersebut semua berposisi sebagai penyerang.

Minute Goal WCL 2014

Sedangkan tiga rentang waktu dimana The She-Wolves banyak mencetak gol adalah, pertama: pada saat memasuki menit ’11 sampai ’20, dimana para penyerang menyumbangkan dua gol, pemain belakang berkontribusi satu gol, dan sisanya milik para midfielders. Kedua, saat hendak memasuki dan setelah waktu turun minum: menit ke-’41 hingga ’50. Enam gol tercipta pada saat ini: tiga milik para penyerang dan dua oleh pemain tengah. Ketiga, di kala memasuki akhir pertandingan: menit ke-’81 sampai ’90: lima gol dicetak para penyerang dan satu gol oleh pemain tengah.

Dalam rentang waktu produktif kedua tim, masing-masing ada satu pemain yang berkontribusi paling besar. Di Tyresö tercatat nama Christen Press yang mencetak semua gol pada rentang menit ’61 hingga ’70. Di menit tersebut hampir setengah jumlah gol yang di cetak pemain berumur 25 tahun di musim ini terjadi, sembilan gol yang menempatkan pemain asal USA ini menjadi top skorer sementara. Di posisi kedua pencetak gol terbanyak sementara adalah pemain veteran dari Wolfsburg: Martina Müller. Dalam rentang waktu dimana Die Wölfinnen paling banyak mencetak gol, enam puluh persen adalah hasil kontribusi pemain berusia 34 tahun ini. Dengan hanya terpaut satu gol dari sang pemuncak top skorer dan didukung komposisi skuat yang lebih baik, kemungkinan besar Müller dapat melampaui perolehan gol Press.

Christen Press - sumber: tyresoff.se

Christen Press – sumber: tyresoff.se

Conny Pohlers dan Marta akan bersua kembali di final, setelah final di tahun 2008. Saat itu, pada leg pertama yang dilangsungkan di Umeå, Marta mencetak gol cepat di menit pertama. Namun gol tersebut hanya bertahan empat menit setelah Conny Pohlers menyegel skor akhir. Marta yang masih berpeluang mendapatkan medali pemenang keduanya sekaligus menjadi top skor kompetisi, harus gigt jari setelah tim tamu ditundukkan 3-2 dengan Conny Pohlers turut mencetak dua gol. Marta pun harus merelakan berbagi gelar top skorer dengan Conny Pohlers.

Kemenangan di partai puncak pada tanggal 22 Mei 2014 ini amat berarti bagi kedua finalis. Bagi Tyresö yang sedang menghadapi masalah finansial, kemenangan ini akan menjadi sejarah klub dimana musim depan mereka terancam bermain di divisi tiga liga domestik karena gagal menyampaikan laporan keuangan tahun 2013 yang telah jatuh tempo pada enam belas Maret lalu. Pembelian beberapa pemain bintang dituding sebagai biang keladi permasalahan finansial ini. Akibatnya, dikabarkan beberapa pemain, seperti Christen Press, Verónica Boquete, Whitney Engen, dan Marta akan mencari klub baru di musim panas nanti. Bila takluk dari Wolfsburg, akan menjadi kegagalan keempat di final ketujuh dengan representasi klub Swedia.

Sedangkan anak asuh Ralf Kellermann berharap dapat mengulangi prestasi Umeå IK dan Lyon yang dapat mempertahankan trofi pada final ketujuh secara beruntun dimana selalu ada wakil Jerman ini. Lain lagi dengan catatan manis penggawanya bila Wolfsburg yang angkat trofi. Viola Odebrecht dan Conny Pohlers akan merasakan juara keempat kali mereka. Nama terakhir yang tahun kemarin membuat rekor dengan menajdi juara di tiga klub berbeda, pasti sangat antusias menjalani partai terakhirnya di kejuaraan Eropa sebelum pensiun di musim panas nanti.

Akankah Christen Press yang memiliki rataan mencetak gol tiap delapan puluh menit sekali dapat menuliskan sejarah sebelum kepergiannya? Mungkinkah dua penyerang muda berusia sembilan belas tahun Die Wölfinnen, Lyn Meyer dan Jovana Damnjanović, yang mempunyai rataan mencetak gol tiap tiga puluh dan 64 menit yang akan membantu mewujudkan ambisi klubnya. Atau malah pemain gaek berumur 35 tahun dengan rataan gol tiap 28 menit ini yang akan menorehkan gol kemenangan agar trofi tak lari dari almari. Dialah Conny Pohlers(soe)

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: