Archive for the tag “Brazil”

Jadwal Piala Dunia 2014

*) Waktu Indonesia Bagian Barat (GMT +7)

GROUP STAGE
13 JUN
03.00 BRAZIL CROATIA Arena Corinthians
23.00 MEXICO CAMEROON Estadio das Dunas
14 JUN
02.00 SPAIN NETHERLANDS Arena Fonte Nova
05.00 CHILE AUSTRALIA Arena Pantanal
23.00 COLOMBIA GREECE Estadio Mineirao
15 JUN
02.00 URUGUAY COSTA RICA Estadio Castelao
05.00 ENGLAND ITALY Arena Amazonia
08.00 CÔTE D’IVOIRE JAPAN Arena Pernambuco
23.00 SWITZERLAND ECUADOR Estadio Nacional
16 JUN
02.00 FRANCE HONDURAS Estadio Beira-Rio
05.00 ARGENTINA BOSNIA Maracanã
23.00 GERMANY PORTUGAL Arena Fonte Nova
17 JUN
02.00 IRAN NIGERIA Arena da Baixada
05.00 GHANA USA Estadio das Dunas
23.00 BELGIUM ALGERIA Estadio Minerao
18 JUN
02.00 BRAZIL MEXICO Estadio Castelao
05.00 RUSSIA KOREA REPUBLIC Arena Pantanal
23.00 AUSTRALIA NETHERLANDS Estadio Beira-Rio
19 JUN
02.00 SPAIN CHILE Maracanã
05.00 CAMEROON CROATIA Arena Amazonia
23.00 COLOMBIA CÔTE D’IVOIRE Estadio Nacional
20 JUN
02.00 URUGUAY ENGLAND Arena Corinthians
05.00 JAPAN GREECE Estadio das Dunas
23.00 ITALY COSTA RICA Arena Pernambuco
21 JUN
02.00 SWITZERLAND FRANCE Arena Fonte Nova
05.00 HONDURAS ECUADOR Arena da Baixada
23.00 ARGENTINA IRAN Estadio Mineirao
22 JUN
02.00 GERMANY GHANA Estadio Castelao
05.00 NIGERIA BOSNIA Arena Pantanal
23.00 BELGIUM RUSSIA Maracanã
23 JUN
02.00 KOREA REPUBLIC ALGERIA Estadio Beira-Rio
05.00 USA PORTUGAL Arena Amazonia
23.00 NETHERLANDS CHILE Arena Corinthians
23.00 AUSTRALIA SPAIN Arena da Baixada
24 JUN
03.00 CAMEROON BRAZIL Estadio Nacional
03.00 CROATIA MEXICO Arena Pernambuco
23.00 ITALY URUGUAY Estadio das Dunas
23.00 COSTA RICA ENGLAND Estadio Mineirao
25 JUN
03.00 JAPAN COLOMBIA Arena Pantanal
03.00 GREECE CÔTE D’IVOIRE Estadio Castelao
23.00 NIGERIA ARGENTINA Estadio Beira-Rio
23.00 BOSNIA IRAN Arena Fonte Nova
26 JUN
03.00 HONDURAS SWITZERLAND Arena Amazonia
03.00 ECUADOR FRANCE Maracanã
23.00 PORTUGAL GHANA Estadio Nacional
23.00 USA GERMANY Arena Pernambuco
27 JUN
03.00 KOREA REPUBLIC BELGIUM Arena Corinthians
03.00 ALGERIA RUSSIA Arena da Baixada
ROUND OF 16
28 JUN
23.00 BRAZIL CHILE Estadio Mineirao
29 JUN
03.00 COLOMBIA URUGUAY Maracanã
23.00 NETHERLANDS MEXICO Estadio Castelao
30 JUN
03.00 COSTA RICA GREECE Arena Pernambuco
23.00 FRANCE NIGERIA Estadio Nacional
01 JUL
03.00 GERMANY ALGERIA Estadio Beira-Rio
23.00 ARGENTINA SWITZERLAND Arena Corinthians
02 JUL
03.00 BELGIUM USA Arena Fonte Nova
QUARTER-FINALS
04 JUL
23.00 FRANCE GERMANY Maracanã
05 JUL
03.00 BRAZIL COLOMBIA Estadio Castelao
23.00 ARGENTINA BELGIUM Estadio Nacional
06 JUL
03.00 NETHERLANDS COSTA RICA Arena Fonte Nova
SEMI-FINALS
09 JUL
03.00 BRAZIL GERMANY Estadio Mineirao
10 JUL
03.00 NETHERLANDS ARGENTINA Arena Corinthians
PLAY-OFF FOR THIRD PLACE
13 JUL
03.00 BRAZIL NETHERLANDS Estadio Nacional
FINAL
14 JUL
02.00 GERMANY ARGENTINA Maracanã

Serba-Serbi Piala Konfederasi (2013)

Aksi-aksi di Piala Konfederasi mulai malam ini tersaji. Banyak yang menanti, tidak sedikit pula yang tak peduli. Yang sedang menanti-nanti mungkin juga masih ada yang belum mendapat informasi terkini. Beberapa paragraf dan tabel mengenai serba-serbi di Piala Konfederasi di bawah ini semoga dapat menemani Anda menanti di depan layar televisi dan menjadi saksi pagelaran kompetisi pembuka Piala Dunia ini. Hati-hati….. Adiksi!!!

Bukan FC Bayern München, apalagi Borussia Dortmund. Kedua finalis Liga Champions musim 2012/13 ini bahkan tak masuk sepuluh besar klub yang sebagian besar pemainnya akan bertarung di Piala Konfederasi 2013. Adalah AS Dragon yang menemani Barcelona sebagai klub yang sebagian besar pemainnya tercatat berlaga di Piala Konfederasi 2013 dengan jumlah masing-masing sepuluh pemain. Disusul kemudian oleh Juventus dengan sembilan pemain. Kemudian, dengan enam pemain masing-masing, daftar lima besar ini dilengkapi oleh AS Tefana dan Chelsea.

Chelsea adalah pengecualian tersendiri. Unik. Di kala sembilan klub yang mengisi daftar sepuluh klub dengan partisipasi pemain terbanyak di Piala Konfederasi berasal dari negara yang berkompetisi, Chelsea menjadi satu-satunya klub yang berbeda status di daftar tersebut. Andai ini adalah Piala Konfederasi tahun 1969 (emang sudah ada???). If you know what I mean 🙂

11 Klub Terbanyak Partisipasi Pemain

Klub Asal Klub Partisipasi Pemain
AS Dragon Tahiti 10
FC Barcelona Spanyol 10
Juventus FC Italia 9
AS Tefana Tahiti 6
Chelsea FC Inggris 6
SS Lazio Italia 5
Real Madrid CF Spanyol 5
AC Milan Italia 5
Club America Mexico 4
CD Cruz Azul Mexico 4
CF Monterrey Mexico 4

Dua belas klub Serie A Italia adalah tempat bernaung bagi tiga puluh empat pemain yang berkompetisi di edisi kali ini. Sembilan diantaranya bermain untuk sang juara bertahan Serie A dua musim terakhir. Maaf… bukan dua belas klub Serie A, tapi sebelas. Satu lagi adalah klub Serie B: AS Varese 1910, tempat bekerja Nnamdi Oduamadi. Walaupun sebenarnya penyerang asal Nigeria ini tercatat sebagai pemain pinjaman dari AC Milan.

Spanyol berada tepat di bawah Italia pada daftar ini. Terasa sangat menyesuaikan dengan klasemen akhir La Liga musim 2012/13, sepuluh pemain Barcelona diikuti lima pemain Real Madrid dan tiga pemain Atletico Madrid terdaftar membela negaranya masing-masing di Piala Konfederasi kali ini.

Partisipasi Liga Lokal Para Peserta

Liga Partisipasi Klub Partisipasi Pemain
Italia 12 34
Spanyol 9 25
Tahiti 6 22
Mexico 6 17
Brasil 8 13
Jepang 6 9
Nigeria 5 8
Uruguay 8 8

Berbicara mengenai komposisi klub asal pemain di Piala Konfederasi kali ini, hanya Tahiti dan Italia yang skuatnya didominasi oleh pemain yang bermain di klub lokal. Hanya ada satu dari dua puluh tiga pemain yang bermain di luar kompetisi lokal. Kemudian ada Mexico dengan tujuh belas pemain yang bermain di liga lokal. Selanjutnya Spanyol dengan lima belas pemain, Brasil dengan sebelas pemain, Jepang dengan sembilan pemain, Nigeria dengan delapan pemain, dan terkahir hanya empat pemain Uruguay yang bermain di liga lokal.

Fakta berikutnya adalah pemain yang bermain di liga luar negeri. Pemain Nigeria menjadi yang terbanyak bermain di liga luar negeri. Lima belas pemainnya tersebar bermain di sepuluh liga luar negeri. Semuanya liga-liga di Eropa. Menyusul kemudian dengan sembilan belas pemain Uruguay yang bermain di tujuh liga luar negeri. Berikutnya dua belas pemain Brasil di enam liga luar negeri, empat belas pemain Jepang di enam liga luar negeri, enam pemain Mexico di tiga liga luar negeri, dan delapan pemain Spanyol di dua liga luar negeri.

Terkait dengan pemain yang mengadu nasib di negara peserta Piala Konfederasi kali ini, Uruguay menjadi yang terdepan dengan delapan pemain di liga Italia, tiga pemain di Liga Spanyol, dan dua pemain di Brasil. Kemudian Brasil dengan tiga pemain di Liga Spanyol, dan satu pemain di Liga Italia. Selanjutnya Mexico dengan empat pemain di liga Spanyol, Nigeria dengan dua pemain di Liga Italia, dan Jepang dengan satu pemain di liga Italia.

Dari penghitungan data di atas, dapat disimpulkan dari 184 pemain yang berlaga di Brasil tahun ini: 18% bermain di Liga Italia, 14% di Liga Spanyol, 12% di Liga Tahiti, 9% di Liga Mexico, 7% di Liga Brasil, 5% di Liga Jepang, 4% di Liga Nigeria, 2% di Liga Uruguay, selebihnya 28% dari liga di luar peserta. Secara konfederasi:  110 bermain di konfederasi UEFA, 22 pemain di konfederasi OFC, 18 pemain di konfederasi CONMEBOL, 17 pemain di konfederasi CONCACAF, 9 pemain di konfederasi AFC, 8 pemain di konfederasi CAF.

Di Piala Konfederasi kali ini, sang jawara Afrika membawa skuat dengan rataan umur termuda dan rataan tinggi badan pemain paling tinggi diantara peserta lainnya. Sedangkan Spanyol bermaterikan pemain dengan rataan tinggi badan terpendek dengan hanya rata-rata 178,9 cm.

Rataan Umur dan Tinggi Pemain

Negara Umur Tinggi
Mexico 26 tahun 179,9 cm
Jepang 27 tahun 179,5 cm
Italia 28 tahun 181,9 cm
Brasil 26 tahun 180,5 cm
Uruguay 28 tahun 181,3 cm
Tahiti 26 tahun 179,1 cm
Spanyol 28 tahun 178,9 cm
Nigeria 23 tahun 182,2 cm

Andres Scotti menjadi pemain tertua di turnamen kali ini dengan umur 37 tahun. Dibawah pemain belakang Club Nacional de Football ini ada tiga penjaga gawang secara berurutan: Xavier Samin dari Tahiti, Si Superman mantan penjaga gawang Parma yang kini bermain untuk Juventus, dan terakhir Juan Castillo dari Uruguay. Pemain tengah asal CD Cruz Azul kelahiran 30 April 1979 menutup daftar lima pemain paling senior di Piala Konfederasi kali ini.

5 Pemain Tertua

Nama Negara Tanggal Lahir Posisi
Andres Scotti Uruguay 14 Desember 1975 Defender
Xavier Samin Tahiti 01 Januari 1978 Goalkeeper
Gianluigi Buffon Italia 28 Januari 1978 Goalkeeper
Juan Castillo Uruguay 17 April 1978 Goalkeeper
Gerardo Torrado Mexico 30 April 1979 Midfielder

Nigeria boleh saja membawa skuat dengan rataan umur termuda dibanding negara peserta lainnya. Namun, pemain termuda pada turnamen di Brasil ini bukan berasal dari Nigeria. Dia adalah Yohann Tihoni yang berumur delapan belas tahun sepuluh bulan sebagai pemain termuda. Setelah penyerang Tahiti ini, ada rekan senegaranya yang berposisi sebagai pemain tengah AS Tamarii di urutan kedua pemain termuda. Rainui Ariota. Baru kemudian tiga pemain Nigeria menyusul setelahnya secara berurutan: Kenneth Omeruo, defender ADO Den Haag berumur sembilan belas tahun, dan Francis Benjamin.

5 Pemain Termuda

Nama Negara Tanggal Lahir Posisi
Yohann Tihoni Tahiti 20 Juli 1994 Forward
Rainui Aroita Tahiti 25 Januari 1994 Midfielder
Kenneth Omeruo Nigeria 17 Oktober 1993 Defender
Solomon Kwambe Nigeria 30 September 1993 Defender
Francis Benjamin Nigeria 20 Juni 1993 Defender

Bila Anda sudah melihat daftar lima pemain tertua di atas. Anda sudah pasti tahu tiga penjaga gawang tertua di perhelatan empat tahunan ini. Penjaga gawang asal Brasil yang sewaktu kedatangannya berujar akan membawa Queens Park Rangers FC ke Liga Champions namun kenyataannya malah ke Divisi Championship dan Jose Corona asal Mexico berurutan berada di peringkat keempat dan kelima.

5 Goalkeeper Tertua

Nama Usia Negara
Xavier Samin 35 tahun 5 bulan Tahiti
Gianluigi Buffon 35 tahun 4 bulan Italia
Juan Castillo 35 tahun 1 bulan Uruguay
Julio Cesar 33 tahun 9 bulan Brasil
Jose Corona 32 tahun 4 bulan Mexico

Dua penjaga gawang pelapis Eiji Kawashima, yang bermain untuk Standard Liege, termasuk di daftar lima penjaga gawang termuda. Shuichi Gonda sebagai yang termuda dan Shusaku Nishikawa di urutan keempat. Dua nama terkenal di daftar ini adalah penjaga gawang yang turut membawa Paris Saint-Germain FC menjuarai Ligue 1 musim 2012/13 dan penjaga gawang klub yang menjuarai 2012/13 Spor Toto Süper Lig Turki. Pelengkapnya adalah goalkeeper asal klub AS Central Sport dari Tahiti.

5 Goalkeeper Termuda

Nama Usia Negara
Shuichi Gonda 24 tahun 3 bulan Jepang
Salvatore Sirigu 26 tahun 5 bulan Italia
Gilbert Meriel 26 tahun 7 bulan Tahiti
Shusaku Nishikawa 26 tahun 11 bulan Jepang
Fernando Muslera 26 tahun 11 bulan Uruguay

Karena beroperasi di lini belakang, selain sebagai pemain tertua otomatis Andres Scotti pun menjabat sebagai pemain belakang tertua. Dibawahnya adalah pemain belakang Tahiti yang mempunyai nama belakang bernuansa Jawa: Tamatoa Wagemann. Kemudian Carlos Salcido asal Mexico. Selanjutnya ada pemain belakang Malaga FC yang ternyata berasal dari Uruguay, bukan Lugano di Swiss. Daftar ini ditutup defender Juventus yang kali ini di bawa Italia ke Brasil selain Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci.

5 Defender Tertua

Nama Usia Negara
Andres Scotti 37 tahun 6 bulan Uruguay
Tamatoa Wagemann 33 tahun 2 bulan Tahiti
Carlos Salcido 33 tahun 2 bulan Mexico
Diego Lugano 32 tahun 7 bulan Uruguay
Andrea Barzagli 32 tahun 1 bulan Italia

Pemain muda AC Milan kelahiran 20 Oktober 1992 dan Diego Reyes adalah pemain belakang di urutan keempat dan kelima yang termuda. Siapa yang di urutan pertama sampai ketiga? Tengoklah daftar lima pemain termuda di atas, niscaya Anda akan menemukan tiga nama yang sama dengan daftar di bawah ini.

5 Defender Termuda

Nama Usia Negara
Kenneth Omeruo 19 tahun 7 bulan Nigeria
Solomon Kwambe 19 tahun 8 bulan Nigeria
Francis Benjamin 19 tahun 11 bulan Nigeria
Mattia De Sciglio 20 tahun 7 bulan Italia
Diego Reyes 20 tahun 8 bulan Mexico

Bila Anda kira bahwa Andrea Pirlo adalah midfielder tertua di turnamen kali ini, Anda salah. Ada yang lebih tua satu bulan darinya. Gerardo Torrado. Sedangkan Xavi Hernandez berada di urutan ketiga hanya karena dia hadir di dunia ini tiga hari lebih cepat dari Yasuhito Endo yang lahir pada 28 Januari 1980 yang berada di urutan keempat. Daftar ini dilengkapi oleh pemain tengah Bologna FC asal Uruguay.

5 Midfielder Tertua

Nama Usia Negara
Gerardo Torrado 34 tahun 1 bulan Mexico
Andrea Pirlo 34 tahun 0 bulan Italia
Xavi Hernandez 33 tahun 4 bulan Spanyol
Yasuhito Endo 33 tahun 4 bulan Jepang
Diego Perez 33 tahun 0 bulan Uruguay

Hanya Ia yang bermain di luar negaranya dalam daftar lima midfielder termuda kali ini. Ia mencetak gol pertama di karir klub seniornya saat melawat ke Mercedes-Benz Arena pada tanggal 7 Maret 2013. Sedangkan gol pertamanya di Serie A adalah saat ia menyegel kemenangan tandang di Stadion Giuseppe Meazza. Laziale pasti kenal kan dengan Ogenyi Onazi? Empat pemain tengah termuda lainnya masih berkompetisi di dalam negeri masing-masing. Mereka adalah Emeka Eze rekan senegara Ogenyi Onazi, Fernando asal Brasil, serta Rainui Ariota dan Ricky Aitamai dari Tahiti.

5 Midfielder Termuda

Nama Usia Negara
Rainui Aroita 19 tahun 4 bulan Tahiti
Ogenyi Onazi 20 tahun 5 bulan Nigeria
Emeka Eze 20 tahun 5 bulan Nigeria
Fernando 21 tahun 3 bulan Brasil
Ricky Aitamai 21 tahun 5 bulan Tahiti

Tiga dari lima pemain depan tertua pada daftar di bawah sudah pasti Anda kenal. Bagaimana dengan Ryoichi Maeda dan Marama Vahirua? Nama pertama adalah pemain dengan tinggi 183 cm yang telah bersama Jubilo Iwata selama empat belas tahun. Selama itu juga ia telah membela tim nasional Jepang yang di awali dari jenjang U-20. Sedangkan nama kedua adalah satu-satunya dari skuat pemain tim nasional Tahiti yang bermain di luar Tahiti. Pemain asli akademi FC Nantes ini, sekarang bermain untuk Panthrakikos FC di Yunani dengan status on loan dari AS Nancy.

5 Forward Tertua

Nama Usia Negara
Diego Forlan 34 tahun 0 bulan Uruguay
Marama Vahirua 33 tahun 1 bulan Tahiti
Ryoichi Maeda 31 tahun 8 bulan Jepang
David Villa 31 tahun 6 bulan Spanyol
Alberto Gilardino 30 tahun 11 bulan Italia

Baik Yohann Tihoni maupun Bernard adalah dua pemain muda yang masih bermain di dalam negeri masing-masing, tentunya selain Stephan El Sharaawy. Dua pemain Nigeria di daftar lima pemain depan termuda ini adalah Michael Babatunde yang bermain di liga Ukraina bersama FC Kryvbas Kryvyi Rih, nama yang tidak terlalu asing karena di awal milenium ketiga lumayan sering wara-wiri di UEFA Cup. Satu pemain Nigeria lain adalah Ahmed Musa yang saat ini bermain bersama Keisuke Honda di liga Rusia.

5 Forward Termuda

Nama Usia Negara
Yohann Tihoni 18 tahun 10 bulan Tahiti
Michael Babatunde 20 tahun 5 bulan Nigeria
Stephan El Shaarawy 20 tahun 7 bulan Italia
Ahmed Musa 20 tahun 8 bulan Nigeria
Bernard 20 tahun 9 bulan Brasil

Ada lima pemain yang akan merayakan ulang tahunnya selama Piala Konfederasi 2013 di Brasil ini. Shusaku Nishikawa dan Jean yang segera meninggalkan umur 26 tahunnya pada tanggal 18 dan 24 Juni serta Pablo Barrera yang akan memasuki (katanya) usia matang sebagai seorang pesepakbola. Ulang tahun ketiga pemain tadi terasa kurang spesial, karena terjadi bukan pada match day mereka. Coba saja tanya ke Benjamin Francis seberapa spesial ulang tahunnya yang ke-20 saat bertepatan dengan pertandingan melawan Uruguay pada tanggal 20 Juni 2013. Mungkin ia bisa meminta saran dari lawan mainnya pada hari itu terkait tingkah spesial apa yang bisa dilakukan di momen spesial itu, karena empat hari sebelumnya penjaga gawang tim lawan ini pun merayakan ulang tahun yang bertepatan dengan match day melawan Spanyol.

Penjaga gawang itu adalah Fernando Muslera. Bukankah, merayakan ulang tahun saat melawan juara dunia dan penguasa sepakbola Eropa saat ini adalah sesuatu yang istimewa? Jika tak mau dibilang sangat spesial. Patut ditunggu apa yang akan dilakukannya pada hari itu. Apakah clean sheet hadiahnya? Yang berarti paling tidak satu poin dari partai perdananya. Atau mungkin…… satu gol darinya seperti yang dicetaknya ke gawang Manisaspor di partai penutup Liga Turki pada tanggal 8 April 2012. Logika serakah mengatakan: “Cetak gol, dan tidak kebobolan.” Nalar sehat berbisik: “Lebih baik clean sheet tapi tak mencetak gol, dibanding mencetak gol tapi jala gawang bergetar berkali-kali. Sakit rasanya. Tak percaya? Silahkan tanya ke Gianluigi Buffon apa yang dirasakannya pada tanggal 1 Juli 2012 di Olympic Stadium, Kiev.” (soe)

Happy Birthday!!!

Nama Negara Tanggal Lahir Posisi
Fernando Muslera Uruguay 16 Juni 1986 Goalkeeper
Shusaku Nishikawa Jepang 18 Juni 1986 Goalkeeper
Francis Benjamin Nigeria 20 Juni 1993 Defender
Pablo Barrera Mexico 21 Juni 1987 Midfielder
Jean Brasil 24 Juni 1986 Defender

Adiksi Aksi-Aksi di Piala Konfederasi

FIFA Confederations Cup adalah turnamen sepakbola berumur lima tahun saat diadopsi FIFA dari Arab Saudi yang membidani lahirnya pada tahun 1992 dan memberinya nama King Fahd Cup pada awalnya. Sebelum diadopsi FIFA, sempat dua kali Arab Saudi menyelenggarakan King Fahd Cup pada tahun 1992 dan 1995. Saat diambil alih FIFA, turnamen ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali.

Batistuta 1992_taringa.net

Gabriel Omar Batistuta – sumber: taringa.net

Gelaran perdana Piala Konfederasi diikuti empat negara: Argentina, Amerika Serikat, Pantai Gading, dan tuan rumah. Dengan materi tim seperti Gabriel Batistuta, Claudio Caniggia, Diego Simeone, dan Fernado Redondo, Argentina membawa pulang piala setelah mengalahkan tuan rumah 3-1 di final turnamen yang menggunakan format straightforward four-team ini. Peringkat tiga diraih Amerika Serikat yang menggulung Pantai Gading 5-2, setelah keduanya mengalami kekalahan di pertandingan pertama: Amerika Serikat kalah 0-3 dari tuan rumah dan Pantai Gading menyerah 0-4 dari Argentina.

Tiga tahun kemudian, kali ini juara Piala Eropa 1992 berpartisipasi. Laudrup bersaudara berhasil mengawinkannya dengan Piala Konfederasi, setelah di final mengalahkan juara bertahan dengan skor 2-0. Perhelatan tahun ini menambah dua peserta, yang mengakibatkan format berubah menjadi dua grup: para juara grup langsung ke final, sementara para runner-up grup memperebutkan peringkat tiga turnamen yang dimenangkan Mexico melalui adu penalti melawan Nigeria. Dua wakil Asia: tuan rumah dan Jepang, menghuni dasar klasemen di masing-masing grup.

Tahun 1997 adalah kali pertama penyelenggaraan dengan nama FIFA Confederations Cup. Masih Arab Saudi sebagai tuan rumah. Sesuai dengan namanya, tiap juara di masing-masing konfederasi (Oseania, Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan) hadir di turnamen ini dan digenapkan menjadi delapan negara oleh tuan rumah serta juara bertahan Piala Dunia edisi sebelumnya.

Australia jawara Oseania tahun 1996, Afrika Selatan jawara Afrika tahun 1996, Mexico jawara Piala Emas CONCACAF tahun 1996, Uruguay jawara Copa América tahun 1995, dan Brasil juara dunia tahun 1994. UEA yang merupakan runner-up Piala Asia tahun 1996 mewakili AFC dikarenakan sang jawara Asia saat itu adalah sang tuan rumah. Sedangkan jawara Piala Eropa tahun 1996: Jerman, menolak berpartisipasi, sehingga diwakili Republik Ceska yang merupakan runner-up Piala Eropa.

Romario 1997_fifa.com

Romario (11) – sumber: fifa.com

Final di penyelenggaran tahun 1997 memegang rekor tersendiri sebagai skor final terbesar turnamen sejauh ini. Hat-trick Ronaldo dan Romário ke gawang Mark Bosnich menenggelamkan Australia di final yang dipimpin oleh wasit asal Thailand. Australia gagal mengulangi prestasi di babak grup dimana mereka menahan imbang Brasil 0-0. Terlepas dari kartu merah yang diterima Mark Viduka di menit 24’, skuat Brasil saat itu memang diisi generasi emas seperti: Dida, Cafu, Aldair, Roberto Carlos, Dunga, dan Juninho. Tengok pula dogout Brasil sewaktu final, duduk santai disana Rogerio Ceni, Ze Roberto, Leonardo, Bebeto, dan Rivaldo.

Penggemar sepakbola generasi 90-an yang masih belum bisa move on dari masa itu tentu masih sangat mengingat Vladimir Smicer, Cuauhtemoc Blanco, Pavel Nedved, Harry Kewell, Alvaro Recoba, John Aloisi, dan Marcelo Zalayeta. Oh….. indahnya masa-masa itu 🙂

Dua tahun kemudian, Mexico menjadi tuan rumah pertama di luar Arab Saudi. Kali ini Jerman bersedia berpartisipasi, adapun para peserta lain: Arab Saudi, Selandia Baru, dan Mesir. Runner-up Piala Emas 1998: Amerika Serikat mewakili zona CONCACAF dikarenakan Mexico sebagai juara bertindak sebagai tuan rumah. Mengikuti jejak Jerman di edisi sebelumnya, juara dunia tahun 1998 menolak berpartisipasi dengan alasan tak dapat menurunkan skuat terbaik dikarenakan klub-klub tempat bernaung pemain tak mau melepas pemain membela negaranya karena risiko kelelahan hingga cedera. Jatah turun ke runner-up Piala Dunia. Siapa yang kebagian rezeki? Bolivia: runner-up Copa América tahun 1997 mewakili CONMEBOL menggantikan tempat Brasil.

Trofi_newsimg.bbc.co.uk

Trofi – sumber: newsimg.bbc.co.uk

Tuan rumah menjadi juara setelah menang 4-3 atas Brasil. Arab Saudi kalah 0-2 di perebutan tempat ketiga dari Amerika Serikat. Beberapa rekor di turnamen kali ini antara lain sepuluh gol tercipta di waktu normal saat Brasil menyingkirkan Arab Saudi, yang sempat menyamakan kedudukan 2-2, di semifinal. Rekor lain yang belum dilampaui bahkan diulangi hingga saat ini adalah dua quat-trick di Grup A. 25 Juli 1999, Cuauhtemoc Blanco seakan mengajarkan pemain Arab Saudi bagaimana caranya mencetak empat gol untuk kemenangan 5-1. Empat hari berselang, hasil belajar dari Cuauhtemoc Blanco langsung dipraktekkan Marzouk Al-Otaibi saat mencetak quat-trick pada kemenangan Arab Saudi 5-1 atas Mesir.

Piala Konfederasi di milenium baru digelar di benua Asia. Korea Selatan dan Jepang tuan rumahnya. Gol Patrick Viera di menit 30’ ke gawang Yoshikatsu Kawaguchi menjadi satu-satunya gol yang dapat membawa pulang Piala Konfederasi untuk disandingkan dengan Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Perancis menjadi tim kedua setelah Brasil yang dapat secara beruntun memenangkan kejuaraan dunia, benua, dan antar benua.

Jerman kembali menolak berpartisipasi mewakili konfederasi UEFA, kali ini dengan status sebagai runner-up Piala Dunia 2002. Sebagai tuan rumah dan juara Piala Eropa 2000, Perancis otomatis berpartisipasi. Setali tiga uang dengan Jerman, Italia sebagai runner-up Piala Eropa 2002 juga menolak berpartisipasi. Spanyol yang saat itu berada di rangking kedua FIFA juga sama. Akhirnya Turki sebagai peringkat ketiga Piala Dunia 2002 yang mewakili UEFA.

Foe_storiedicalcio.altervista.org

Foe – sumber: storiedicalcio.altervista.org

Perancis mengulangi prestasi Mexico di tahun 1999: menjadi juara di rumah sendiri. Kemenangan ini sekaligus mengobati performa buruk mereka di Piala Dunia 2002. Satu-satunya gol Thierry Henry di babak pertama extra time ke gawang Kamerun semakin menambah kesedihan setelah tiga hari sebelumnya mereka kehilangan Marc-Vivien Foé yang meninggal saat sedang bermain di semifinal melawan Kolombia.

Brasil mengulangi final Copa América 2004 saat bersua Argentina di Piala Konfederasi 2005 yang diselenggarakan di Jerman. Bedanya jika di Copa América 2004 Brasil harus diselamatkan gol Adriano di menit 93’ untuk sampai babak adu penalti guna menjadi juara, maka di Piala Konfederasi 2005 Brasil dengan meyakinkan menggebuk Argentina dengan skor mencolok 4-1. Sebaliknya tuan rumah bersusah payah mengalahkan Mexico di perebutan tempat ketiga setelah gol Michael Ballack di menit 97’ memastikan kemenangan Jerman. Sejak edisi ini, Piala Konfederasi diselenggarakan empat tahun sekali dengan penyelenggaraan satu tahun sebelum Piala Dunia yang bertempat di tuan rumah Piala Dunia

Di tahun 2009, Afrika Selatan menjadi tuan rumah pertama di benua Afrika yang menyelenggarakan Piala Konfederasi. Brasil menjadi tim kedua setelah Perancis yang mampu memenangkan Piala Konfederasi secara beruntun. Satu gol Lúcio melengkapi dua gol Luis Fabiano, yang menjadi top skorer turnamen dengan lima gol, yang membawa kemenangan atas Amerika Serikat 3-2. Sedangkan tuan rumah berada di peringkat empat setelah dikalahkan Spanyol.

Logo Confederations Cup 2013_wikipedia

Brasil 2013 – sumber: wikipedia

Partai Brasil melawan Jepang pada tanggal 15 Juni 2013 akan menandai dibukanya edisi ketujuh Piala Konfederasi yang akan digelar hingga tanggal 30 Juni 2013. Spanyol, Mexico, Uruguay, Tahiti, Italia, dan Nigeria melengkapi delapan negara peserta. Akankah Brasil menjadi salah satu tim yang akan bertanding di partai terakhir turnamen? Yang berarti memperbesar peluang mereka menjadi juara tiga kali Piala Konfederasi secara beruntun. Yang juga berarti tetap menyimpan trofi Piala Konfederasi hingga tahun 2017 saat digelar kembali di Rusia. (soe)

2014 Brasil FIFA World Cup Venues: Arena da Baixada

2014 Curitiba Poster_fifa.com

FIFA WC 2014 Curitiba Poster – sumber: fifa.com

Masih ingatkah Anda dengan Ricardo Zonta? Apa mungkin baru pertama kali ini mendengar namanya. Dia adalah pembalap Formula One di awal tahun 2000-an. Namun, bila Anda rajin melihat klasemen pembalap setelah balapan, dimana Michael Schumacher dan Mika Häkkinen yang pada masa itu sering bergantian menjadi juara, harusnya nama beliau pernah terbaca. Baiklah, mungkin salah beliau juga berlaga dengan tim yang kurang kompetitif pada waktu itu, dan juga hanya pembalap kedua dibelakang Jacques Villeneuve. Bagaimana dengan Alexsandro de Souza? Dia kan Pato. Salah. Pato itu Alexandre Rodrigues da Silva. Belum baca artikel sebelumnya ya? Alexsandro de Souza lebih dikenal dengan nama Alex. Hanya dua klub di luar tanah kelahiran yang pernah dibela: Parma dan Fenerbahçe. Di Fenerbahçe Alex meraih berbagai popularitas antara lain, Footballer of the Year di Turki sebanyak dua kali: 2005 dan 2010, dua kali top skor di Süper Lig di musim 2006/07 dan 2010/11, serta jangan lupa, enam assist-nya menjadikan ia assists leader di gelaran UEFA Champions League dimana Manchester United terakhir menjadi jawara di tanah Rusia. Bila dua nama di atas belum familiar di telinga Anda, kenalkah Anda dengan Adriano Correia Claro? Ya, betul. Kali ini Anda tidak terkecoh dengan nama depan yang sama, tapi yang doyan party. Adriano yang ini adalah bek Barcelona. Ia memiliki semua medali juara di kompetisi domestik Spanyol, dan hanya medali juara UEFA Europa League yang belum dimiliki di kompetisi antar klub Eropa. Ketiga olahragawan di atas adalah para pemuda kelahiran Curitiba, Brasil, dimana stadion Arena da Baixada berlokasi.

Curitiba adalah ibu kota dari Paraná. Perekonomian di kota yang dianggap sebagai lokasi terbaik bagi para investor di Brasil ini ditopang oleh sektor industri, perdagangan, dan jasa. Dimana Curitiba merupakan produsen mobil terbesar kedua di Brasil. Curitiba termasuk dalam sepuluh kota terpadat di Brasil. Hampir sama dengan Porto Alegre, Curitiba pun mengalami gelombang imigran pertama dari Eropa pada tahun 1850-an yang berasal dari Polandia, Italia, Ukraina, dan Jerman serta turut memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi dan budaya kota. Gelombang imigran kedua berasal dari Jepang, yang mulai menetap sejak tahun 1915. Salah seorang sangat terkenal yang berasal dari keturunan Jepang adalah Cássio Taniguchi, ia adalah walikota selama dua periode: 1997-2000 dan 2001-2004. Pada saat ini, hanya sejumlah kecil imigran dari Timur Tengah dan negara-negara Amerika Latin lainnya.

Kota tempat implementasi pertama sistem BRT (Bus Rapid Transit) yang mengilhami Transjakarta ini memiliki beberapa tim sepak bola. Diantaranya: Paraná Clube yang bermukim di Estádio Vila Capanema (di Piala Dunia 1950 dikenal dengan nama stadion Britto de Durival e Silva), Coritiba Foot Ball Club yang bermarkas di Estádio Mayor Antônio Couto Pereira, dan Clube Atlético Paranaense di Arena da Baixada. Penghuni Arena da Baixada adalah jawara Campeonato Brasileiro Série A tahun 2001, sedangkan Coritiba memperolehnya lebih awal yaitu pada tahun 1985. Saat ini keduanya bermain di kasta teratas kompetisi sepakbola Brasil, sedangkan Paraná Clube bermain di divisi kedua.

Arena da Baixada 03_skyscrapercity.com

Arena da Baixada – sumber: skyscrapercity.com

Clube Atlético Paranaense yang berdiri pada tahun 1924 ini adalah hasil merger dua klub lokal: Internacional Futebol Clube dan América Foot-Ball Club. Internacional Futebol Clube bermarkas di stadion Estádio Joaquim Américo Guimarães, cikal bakal Arena da Baixada. Peresmian Estádio Joaquim Américo Guimarães pada tahun 1914 dibuka dengan pertandingan tuan rumah melawan Flamengo yang terlalu amat sangat serius, dimana tuan rumah yang harusnya bersuka cita malah digilas 1-7. Sempat ditutup pada tahun 1970-an dan beroperasi beberapa tahun setelah dibuka kembali pada tahun 1984, stadion dirobohkan pada tahun 1997 guna persiapan pembangunan kembali stadion baru di lahan yang sama.

Arena da Baixada 01_skyscrapercity.com

Arena da Baixada – sumber: skyscrapercity.com

Kemenangan 2-1 Atlético Paranaense melawan Cerro Porteño dari Paraguay pada 24 Juni 1999 menandai diresmikannya stadion baru yang sejak saat itu dikenal dengan nama Arena da Baixada. Saat itu kapasitas stadion yang tergolong salah satu stadion modern di Brasil ini adalah 32.864 tempat duduk. Berbicara soal naming rights stadion, Arena da Baixada satu langkah didepan City of Manchester Stadium. Adalah Kyocera, perusahaan asal Jepang, yang membuat Arena da Baixada berubah nama menjadi Kyocera Arena pada tahun 2005. Namun kontrak dengan Kyocera tak selama yang dimiliki City of Manchester Stadium dengan Etihad, pada 2008 nama stadion kembali lagi seperti sebelumnya.

Arena da Baixada 02_skyscrapercity.com

Arena da Baixada – sumber: skyscrapercity.com

Setelah Britto de Durival e Silva membawa nama Curitiba menjadi salah satu host city di Piala Dunia 1950, pada kali kedua Brasil sebagai tuan rumah di Piala Dunia 2014 nanti Curitiba terpilih kembali namun kali ini dengan Arena da Baixada sebagai venue-nya. Setelah ditunjuk FIFA, berbagai renovasi kembali dilakukan di Arena da Baixada guna memenuhi standar FIFA. Semua fasilitas diperbaiki, lebih tepatnya direnovasi, termasuk penambahan jumlah kapasitas menjadi 41.456 tempat duduk.

Arena da Baixada 04_skyscrapercity.com

Arena da Baixada – sumber: skyscrapercity.com

Semoga stadion terisi penuh pada saat empat pertandingan grup digelar di Arena da Baixada sebagaimana Britto de Durival e Silva yang saat itu hanya kebagian jatah satu pertandingan saja, namun hanya menyisakan 400-an tempat duduk dari kapasitas 10.000 tempat duduk pada saat itu. Publik Brasil pun tentu sangat menginginkan prestasi yang serupa saat mereka menjadi tuan rumah pertama kali, namun kali ini bukan hanya sebagai finalis, tapi juara. Dan penonton pun berharap kejadian di tahun 1950 ketika India menarik diri dari kompetisi karena hanya mau bermain jika bertelanjang kaki tidak terjadi lagi. (soe)

2014 Brasil FIFA World Cup Venues: Estádio Beira-Rio

Gelaran Piala Dunia yang akan dihelat di Brasil masih satu tahun lebih lagi. Kota-kota penyelenggara sudah mulai bersolek diri mempersiapkan penyambutan tiga puluh dua peserta. Salah satunya persiapan dari segi infrastruktur, stadion. Ada dua belas kota penyelenggara yang sudah ditunjuk, membentang dari selatan ke utara Brasil. Artikel kali ini akan dibagi menjadi beberapa seri yang akan mengajak kita untuk berkenalan dengan kedua belas venue di 2014 Brasil FIFA World Cup tahun depan. Seri pertama ini akan dimulai dari sisi selatan Brasil dan seri terakhir akan berujung di sisi utara Brasil.

Kota penyelenggara pertama adalah PORTO ALEGRE. Tersebutlah para pelaut-pelaut dari kepulauan Azores Portugal yang telah berjasa mendirikan kota Porto Alegre pada tahun 1772. Porto Alegre merupakan kota nomor sepuluh terpadat di Brazil. Ibukotanya, Rio Grande do Sul, merupakan tujuan para imigran dari Portugal, Italia, Jerman, dan Polandia serta negara-negara Eropa lainnya. Dengan luas wilayah 497 kilometer persegi yang ditumbuhi lebih dari satu juta pohon menjadikan Porto Alegre salah satu kota terhijau di Brazil.

Sepakbola di Porto Alegre sangat identik dengan dua klub besar disana: Grêmio Foot-Ball Porto Alegrense dan Sport Club Internacional. Jika Grêmio adalah awal karir dari Ronaldo de Assis Moreira a.k.a. Ronaldinho Gaúcho dan Émerson Ferreira da Rosa, maka Internacional adalah awal perjalanan karir Cláudio André Mergen Taffarel dan Alexandre Rodrigues da Silva alias Pato.  Soal gelar, Grêmio dan Internacional memiliki sejumlah gelar nasional dan internasional. Gremio punya koleksi dua trofi Campeonato Brasileiro (1981 dan 1996), empat trofi Copa do Brasil (1989, 1994, 1997, dan 2001), dua trofi Copa Libertadores (1983 dan 1995) dan satu trofi Piala Toyota (1983). Sementara lemari trofi Internacional berisikan antara lain tiga trofi Campeonato Brasileiro (1975, 1976 dan 1979), satu trofi Copa do Brasil ( 1992), dua trofi Libertadores (2006 dan 2010), satu trofi FIFA Club World Cup (2006), dan satu trofi Copa Sudamericana (2008).

Grêmio, yang akan berumur seratus sepuluh tahun pada September 2013, pada awalnya bermarkas di Estádio Olímpico Monumental. Pertandingan melawan Nacional dari Uruguay pada 19 September 1954 menjadi pembukaan resmi stadion dengan kapasitas tiga puluh delapan ribu penonton ini. Salah satu kenangan manis Grêmio disini adalah saat mengalahkan Peñarol, iya betul mantan klubnya Syamsir Alam,  dalam final Copa Libertadores tahun 1983. Stadion ini termasuk golongan multi fungsi. Tercatat beberapa musisi beken pernah manggung disini, diantaranya Lenny Kravitz, Eric Clapton, Rod Stewart, Sting, sampai Madonna. Penampilan Madonna pada 9 Desember 2012 menjadi event terakhir yang diselenggarakan di stadion ini. Sehari sebelumnya di sudut lain kota Porto Alegre berlangsung friendly match antara Grêmio melawan Hamburg di Arena do Grêmio yang dimenangkan tuan rumah dengan skor 2-1. Pertandingan ini sekaligus meresmikan Arena do Grêmio sebagai rumah baru Grêmio menggantikan Estádio Olímpico Monumental yang dinilai sudah tidak layak dikarenakan umur bangunan yang sudah tua, biaya perawatan yang mahal, kurangnya lahan parkir, lokasi yang berada di daerah pemukiman penduduk, serta standar kenyamanan, keamanan, dan pelayanan yang rendah. Kemenangan 3-2 Ronaldo’s XI melawan Zidane’s XI di pertandingan amal Match Against Poverty pada 19 Desember 2012 pun digelar di stadion baru ini. Arena do Grêmio menghelat pertandingan resmi pertamanya pada tanggal 30 Januari 2013 ketika Grêmio menang adu penalti dalam pertandingan Copa Libertadores melawan LDU Quito, setelah masing-masing tuan rumah menang 1-0. Tapi, bukan Arena do Grêmio yang mewakili kota Porto Alegre sebagai stadion penyelenggara FIFA World Cup 2014, melainkan stadion kepunyaan Internacional: Estádio José Pinheiro Borda yang lebih dikenal dengan nama Estádio Beira-Rio.

Bernasib yang sama dengan Arena do Grêmio yang merupakan stadion pengganti bagi Grêmio, Estádio José Pinheiro Borda merupakan stadion pengganti kandang Internacional sebelumnya: Estádio dos Eucaliptos. Dengan pertimbangan kapasitas stadion yang sedikit, maka dimulailah pembangunan stadion baru di tepi sungai Guaiba hasil dari sumbangan pemerintah kota. Dikarenakan letaknya yang berada di tepi Sungai Guaiba inilah Estádio Beira-Rio juga dikenal dengan nama Riverside Stadium. Pembangunan Estádio Beira-Rio dimulai pada akhir 1959. Kabarnya, dengan minimnya dana Internacional pada saat itu, maka pembangunan juga bergantung pada kemurahan hati para fans yang memberikan bantuan berupa semen, batu bata, besi sampai tenaga. Bahkan, katanya sampai ada sebuah program radio yang khusus untuk memobilisasi pendukung untuk turut andil dalam pembangunan stadion ini. Akibatnya, pembangunan berjalan sangat lambat dan butuh waktu satu dekade untuk menyelesaikannya. Akhirnya Beira-Rio diresmikan pada hari Minggu 6 April 1969, tepat dua hari dan 60 tahun setelah berdirinya Inter. Peresmian dimeriahkan dengan kemenangan Internacional melawan Benfica dengan skor 2-1. Dinamakan Estádio José Pinheiro Borda guna menghormati jasa seorang insinyur asal Portugal yang turut mengawasi pembangunan stadion namun meninggal sebelum rampung pembangunannya. Merupakan stadion terbesar di wilayah selatan Brasil, stadion ini pun dijuluki O Gigante.

Estádio Beira-Rio - sumber: international.com.br

Estádio Beira-Rio – sumber: international.com.br

Estádio Beira-Rio - sumber: international.com.br

Estádio Beira-Rio – sumber: international.com.br

Setelah terpilih menjadi salah satu venue penyelenggaraan Piala Dunia 2014, segera berbagai perbaikan bangunan dan renovasi dilaksanakan guna memenuhi standar internasional. Renovasi stadion ini telah dimulai sejak Desember 2012 dan diharapkan segera rampung di akhir tahun 2013, namun sempat terdengar kabar terkait isu pendanaan.  Proyek renovasi ini menitikberatkan pada pembangunan eksterior dan pemasangan atap metal inovatif . Stadion berkapasitas lima puluh enam ribu tempat duduk ini memiliki berbagai fasilitas seperti toko, bar, pusat kebugaran, lapangan tenis dan kolam renang. Selama Piala Dunia 2014, Estádio Beira-Rio akan menjadi tuan rumah lima pertandingan. (soe)

Post Navigation

%d bloggers like this: