Archive for the tag “FIFA Confederations Cup”

Serba-Serbi Piala Konfederasi (2013)

Aksi-aksi di Piala Konfederasi mulai malam ini tersaji. Banyak yang menanti, tidak sedikit pula yang tak peduli. Yang sedang menanti-nanti mungkin juga masih ada yang belum mendapat informasi terkini. Beberapa paragraf dan tabel mengenai serba-serbi di Piala Konfederasi di bawah ini semoga dapat menemani Anda menanti di depan layar televisi dan menjadi saksi pagelaran kompetisi pembuka Piala Dunia ini. Hati-hati….. Adiksi!!!

Bukan FC Bayern München, apalagi Borussia Dortmund. Kedua finalis Liga Champions musim 2012/13 ini bahkan tak masuk sepuluh besar klub yang sebagian besar pemainnya akan bertarung di Piala Konfederasi 2013. Adalah AS Dragon yang menemani Barcelona sebagai klub yang sebagian besar pemainnya tercatat berlaga di Piala Konfederasi 2013 dengan jumlah masing-masing sepuluh pemain. Disusul kemudian oleh Juventus dengan sembilan pemain. Kemudian, dengan enam pemain masing-masing, daftar lima besar ini dilengkapi oleh AS Tefana dan Chelsea.

Chelsea adalah pengecualian tersendiri. Unik. Di kala sembilan klub yang mengisi daftar sepuluh klub dengan partisipasi pemain terbanyak di Piala Konfederasi berasal dari negara yang berkompetisi, Chelsea menjadi satu-satunya klub yang berbeda status di daftar tersebut. Andai ini adalah Piala Konfederasi tahun 1969 (emang sudah ada???). If you know what I mean 🙂

11 Klub Terbanyak Partisipasi Pemain

Klub Asal Klub Partisipasi Pemain
AS Dragon Tahiti 10
FC Barcelona Spanyol 10
Juventus FC Italia 9
AS Tefana Tahiti 6
Chelsea FC Inggris 6
SS Lazio Italia 5
Real Madrid CF Spanyol 5
AC Milan Italia 5
Club America Mexico 4
CD Cruz Azul Mexico 4
CF Monterrey Mexico 4

Dua belas klub Serie A Italia adalah tempat bernaung bagi tiga puluh empat pemain yang berkompetisi di edisi kali ini. Sembilan diantaranya bermain untuk sang juara bertahan Serie A dua musim terakhir. Maaf… bukan dua belas klub Serie A, tapi sebelas. Satu lagi adalah klub Serie B: AS Varese 1910, tempat bekerja Nnamdi Oduamadi. Walaupun sebenarnya penyerang asal Nigeria ini tercatat sebagai pemain pinjaman dari AC Milan.

Spanyol berada tepat di bawah Italia pada daftar ini. Terasa sangat menyesuaikan dengan klasemen akhir La Liga musim 2012/13, sepuluh pemain Barcelona diikuti lima pemain Real Madrid dan tiga pemain Atletico Madrid terdaftar membela negaranya masing-masing di Piala Konfederasi kali ini.

Partisipasi Liga Lokal Para Peserta

Liga Partisipasi Klub Partisipasi Pemain
Italia 12 34
Spanyol 9 25
Tahiti 6 22
Mexico 6 17
Brasil 8 13
Jepang 6 9
Nigeria 5 8
Uruguay 8 8

Berbicara mengenai komposisi klub asal pemain di Piala Konfederasi kali ini, hanya Tahiti dan Italia yang skuatnya didominasi oleh pemain yang bermain di klub lokal. Hanya ada satu dari dua puluh tiga pemain yang bermain di luar kompetisi lokal. Kemudian ada Mexico dengan tujuh belas pemain yang bermain di liga lokal. Selanjutnya Spanyol dengan lima belas pemain, Brasil dengan sebelas pemain, Jepang dengan sembilan pemain, Nigeria dengan delapan pemain, dan terkahir hanya empat pemain Uruguay yang bermain di liga lokal.

Fakta berikutnya adalah pemain yang bermain di liga luar negeri. Pemain Nigeria menjadi yang terbanyak bermain di liga luar negeri. Lima belas pemainnya tersebar bermain di sepuluh liga luar negeri. Semuanya liga-liga di Eropa. Menyusul kemudian dengan sembilan belas pemain Uruguay yang bermain di tujuh liga luar negeri. Berikutnya dua belas pemain Brasil di enam liga luar negeri, empat belas pemain Jepang di enam liga luar negeri, enam pemain Mexico di tiga liga luar negeri, dan delapan pemain Spanyol di dua liga luar negeri.

Terkait dengan pemain yang mengadu nasib di negara peserta Piala Konfederasi kali ini, Uruguay menjadi yang terdepan dengan delapan pemain di liga Italia, tiga pemain di Liga Spanyol, dan dua pemain di Brasil. Kemudian Brasil dengan tiga pemain di Liga Spanyol, dan satu pemain di Liga Italia. Selanjutnya Mexico dengan empat pemain di liga Spanyol, Nigeria dengan dua pemain di Liga Italia, dan Jepang dengan satu pemain di liga Italia.

Dari penghitungan data di atas, dapat disimpulkan dari 184 pemain yang berlaga di Brasil tahun ini: 18% bermain di Liga Italia, 14% di Liga Spanyol, 12% di Liga Tahiti, 9% di Liga Mexico, 7% di Liga Brasil, 5% di Liga Jepang, 4% di Liga Nigeria, 2% di Liga Uruguay, selebihnya 28% dari liga di luar peserta. Secara konfederasi:  110 bermain di konfederasi UEFA, 22 pemain di konfederasi OFC, 18 pemain di konfederasi CONMEBOL, 17 pemain di konfederasi CONCACAF, 9 pemain di konfederasi AFC, 8 pemain di konfederasi CAF.

Di Piala Konfederasi kali ini, sang jawara Afrika membawa skuat dengan rataan umur termuda dan rataan tinggi badan pemain paling tinggi diantara peserta lainnya. Sedangkan Spanyol bermaterikan pemain dengan rataan tinggi badan terpendek dengan hanya rata-rata 178,9 cm.

Rataan Umur dan Tinggi Pemain

Negara Umur Tinggi
Mexico 26 tahun 179,9 cm
Jepang 27 tahun 179,5 cm
Italia 28 tahun 181,9 cm
Brasil 26 tahun 180,5 cm
Uruguay 28 tahun 181,3 cm
Tahiti 26 tahun 179,1 cm
Spanyol 28 tahun 178,9 cm
Nigeria 23 tahun 182,2 cm

Andres Scotti menjadi pemain tertua di turnamen kali ini dengan umur 37 tahun. Dibawah pemain belakang Club Nacional de Football ini ada tiga penjaga gawang secara berurutan: Xavier Samin dari Tahiti, Si Superman mantan penjaga gawang Parma yang kini bermain untuk Juventus, dan terakhir Juan Castillo dari Uruguay. Pemain tengah asal CD Cruz Azul kelahiran 30 April 1979 menutup daftar lima pemain paling senior di Piala Konfederasi kali ini.

5 Pemain Tertua

Nama Negara Tanggal Lahir Posisi
Andres Scotti Uruguay 14 Desember 1975 Defender
Xavier Samin Tahiti 01 Januari 1978 Goalkeeper
Gianluigi Buffon Italia 28 Januari 1978 Goalkeeper
Juan Castillo Uruguay 17 April 1978 Goalkeeper
Gerardo Torrado Mexico 30 April 1979 Midfielder

Nigeria boleh saja membawa skuat dengan rataan umur termuda dibanding negara peserta lainnya. Namun, pemain termuda pada turnamen di Brasil ini bukan berasal dari Nigeria. Dia adalah Yohann Tihoni yang berumur delapan belas tahun sepuluh bulan sebagai pemain termuda. Setelah penyerang Tahiti ini, ada rekan senegaranya yang berposisi sebagai pemain tengah AS Tamarii di urutan kedua pemain termuda. Rainui Ariota. Baru kemudian tiga pemain Nigeria menyusul setelahnya secara berurutan: Kenneth Omeruo, defender ADO Den Haag berumur sembilan belas tahun, dan Francis Benjamin.

5 Pemain Termuda

Nama Negara Tanggal Lahir Posisi
Yohann Tihoni Tahiti 20 Juli 1994 Forward
Rainui Aroita Tahiti 25 Januari 1994 Midfielder
Kenneth Omeruo Nigeria 17 Oktober 1993 Defender
Solomon Kwambe Nigeria 30 September 1993 Defender
Francis Benjamin Nigeria 20 Juni 1993 Defender

Bila Anda sudah melihat daftar lima pemain tertua di atas. Anda sudah pasti tahu tiga penjaga gawang tertua di perhelatan empat tahunan ini. Penjaga gawang asal Brasil yang sewaktu kedatangannya berujar akan membawa Queens Park Rangers FC ke Liga Champions namun kenyataannya malah ke Divisi Championship dan Jose Corona asal Mexico berurutan berada di peringkat keempat dan kelima.

5 Goalkeeper Tertua

Nama Usia Negara
Xavier Samin 35 tahun 5 bulan Tahiti
Gianluigi Buffon 35 tahun 4 bulan Italia
Juan Castillo 35 tahun 1 bulan Uruguay
Julio Cesar 33 tahun 9 bulan Brasil
Jose Corona 32 tahun 4 bulan Mexico

Dua penjaga gawang pelapis Eiji Kawashima, yang bermain untuk Standard Liege, termasuk di daftar lima penjaga gawang termuda. Shuichi Gonda sebagai yang termuda dan Shusaku Nishikawa di urutan keempat. Dua nama terkenal di daftar ini adalah penjaga gawang yang turut membawa Paris Saint-Germain FC menjuarai Ligue 1 musim 2012/13 dan penjaga gawang klub yang menjuarai 2012/13 Spor Toto Süper Lig Turki. Pelengkapnya adalah goalkeeper asal klub AS Central Sport dari Tahiti.

5 Goalkeeper Termuda

Nama Usia Negara
Shuichi Gonda 24 tahun 3 bulan Jepang
Salvatore Sirigu 26 tahun 5 bulan Italia
Gilbert Meriel 26 tahun 7 bulan Tahiti
Shusaku Nishikawa 26 tahun 11 bulan Jepang
Fernando Muslera 26 tahun 11 bulan Uruguay

Karena beroperasi di lini belakang, selain sebagai pemain tertua otomatis Andres Scotti pun menjabat sebagai pemain belakang tertua. Dibawahnya adalah pemain belakang Tahiti yang mempunyai nama belakang bernuansa Jawa: Tamatoa Wagemann. Kemudian Carlos Salcido asal Mexico. Selanjutnya ada pemain belakang Malaga FC yang ternyata berasal dari Uruguay, bukan Lugano di Swiss. Daftar ini ditutup defender Juventus yang kali ini di bawa Italia ke Brasil selain Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci.

5 Defender Tertua

Nama Usia Negara
Andres Scotti 37 tahun 6 bulan Uruguay
Tamatoa Wagemann 33 tahun 2 bulan Tahiti
Carlos Salcido 33 tahun 2 bulan Mexico
Diego Lugano 32 tahun 7 bulan Uruguay
Andrea Barzagli 32 tahun 1 bulan Italia

Pemain muda AC Milan kelahiran 20 Oktober 1992 dan Diego Reyes adalah pemain belakang di urutan keempat dan kelima yang termuda. Siapa yang di urutan pertama sampai ketiga? Tengoklah daftar lima pemain termuda di atas, niscaya Anda akan menemukan tiga nama yang sama dengan daftar di bawah ini.

5 Defender Termuda

Nama Usia Negara
Kenneth Omeruo 19 tahun 7 bulan Nigeria
Solomon Kwambe 19 tahun 8 bulan Nigeria
Francis Benjamin 19 tahun 11 bulan Nigeria
Mattia De Sciglio 20 tahun 7 bulan Italia
Diego Reyes 20 tahun 8 bulan Mexico

Bila Anda kira bahwa Andrea Pirlo adalah midfielder tertua di turnamen kali ini, Anda salah. Ada yang lebih tua satu bulan darinya. Gerardo Torrado. Sedangkan Xavi Hernandez berada di urutan ketiga hanya karena dia hadir di dunia ini tiga hari lebih cepat dari Yasuhito Endo yang lahir pada 28 Januari 1980 yang berada di urutan keempat. Daftar ini dilengkapi oleh pemain tengah Bologna FC asal Uruguay.

5 Midfielder Tertua

Nama Usia Negara
Gerardo Torrado 34 tahun 1 bulan Mexico
Andrea Pirlo 34 tahun 0 bulan Italia
Xavi Hernandez 33 tahun 4 bulan Spanyol
Yasuhito Endo 33 tahun 4 bulan Jepang
Diego Perez 33 tahun 0 bulan Uruguay

Hanya Ia yang bermain di luar negaranya dalam daftar lima midfielder termuda kali ini. Ia mencetak gol pertama di karir klub seniornya saat melawat ke Mercedes-Benz Arena pada tanggal 7 Maret 2013. Sedangkan gol pertamanya di Serie A adalah saat ia menyegel kemenangan tandang di Stadion Giuseppe Meazza. Laziale pasti kenal kan dengan Ogenyi Onazi? Empat pemain tengah termuda lainnya masih berkompetisi di dalam negeri masing-masing. Mereka adalah Emeka Eze rekan senegara Ogenyi Onazi, Fernando asal Brasil, serta Rainui Ariota dan Ricky Aitamai dari Tahiti.

5 Midfielder Termuda

Nama Usia Negara
Rainui Aroita 19 tahun 4 bulan Tahiti
Ogenyi Onazi 20 tahun 5 bulan Nigeria
Emeka Eze 20 tahun 5 bulan Nigeria
Fernando 21 tahun 3 bulan Brasil
Ricky Aitamai 21 tahun 5 bulan Tahiti

Tiga dari lima pemain depan tertua pada daftar di bawah sudah pasti Anda kenal. Bagaimana dengan Ryoichi Maeda dan Marama Vahirua? Nama pertama adalah pemain dengan tinggi 183 cm yang telah bersama Jubilo Iwata selama empat belas tahun. Selama itu juga ia telah membela tim nasional Jepang yang di awali dari jenjang U-20. Sedangkan nama kedua adalah satu-satunya dari skuat pemain tim nasional Tahiti yang bermain di luar Tahiti. Pemain asli akademi FC Nantes ini, sekarang bermain untuk Panthrakikos FC di Yunani dengan status on loan dari AS Nancy.

5 Forward Tertua

Nama Usia Negara
Diego Forlan 34 tahun 0 bulan Uruguay
Marama Vahirua 33 tahun 1 bulan Tahiti
Ryoichi Maeda 31 tahun 8 bulan Jepang
David Villa 31 tahun 6 bulan Spanyol
Alberto Gilardino 30 tahun 11 bulan Italia

Baik Yohann Tihoni maupun Bernard adalah dua pemain muda yang masih bermain di dalam negeri masing-masing, tentunya selain Stephan El Sharaawy. Dua pemain Nigeria di daftar lima pemain depan termuda ini adalah Michael Babatunde yang bermain di liga Ukraina bersama FC Kryvbas Kryvyi Rih, nama yang tidak terlalu asing karena di awal milenium ketiga lumayan sering wara-wiri di UEFA Cup. Satu pemain Nigeria lain adalah Ahmed Musa yang saat ini bermain bersama Keisuke Honda di liga Rusia.

5 Forward Termuda

Nama Usia Negara
Yohann Tihoni 18 tahun 10 bulan Tahiti
Michael Babatunde 20 tahun 5 bulan Nigeria
Stephan El Shaarawy 20 tahun 7 bulan Italia
Ahmed Musa 20 tahun 8 bulan Nigeria
Bernard 20 tahun 9 bulan Brasil

Ada lima pemain yang akan merayakan ulang tahunnya selama Piala Konfederasi 2013 di Brasil ini. Shusaku Nishikawa dan Jean yang segera meninggalkan umur 26 tahunnya pada tanggal 18 dan 24 Juni serta Pablo Barrera yang akan memasuki (katanya) usia matang sebagai seorang pesepakbola. Ulang tahun ketiga pemain tadi terasa kurang spesial, karena terjadi bukan pada match day mereka. Coba saja tanya ke Benjamin Francis seberapa spesial ulang tahunnya yang ke-20 saat bertepatan dengan pertandingan melawan Uruguay pada tanggal 20 Juni 2013. Mungkin ia bisa meminta saran dari lawan mainnya pada hari itu terkait tingkah spesial apa yang bisa dilakukan di momen spesial itu, karena empat hari sebelumnya penjaga gawang tim lawan ini pun merayakan ulang tahun yang bertepatan dengan match day melawan Spanyol.

Penjaga gawang itu adalah Fernando Muslera. Bukankah, merayakan ulang tahun saat melawan juara dunia dan penguasa sepakbola Eropa saat ini adalah sesuatu yang istimewa? Jika tak mau dibilang sangat spesial. Patut ditunggu apa yang akan dilakukannya pada hari itu. Apakah clean sheet hadiahnya? Yang berarti paling tidak satu poin dari partai perdananya. Atau mungkin…… satu gol darinya seperti yang dicetaknya ke gawang Manisaspor di partai penutup Liga Turki pada tanggal 8 April 2012. Logika serakah mengatakan: “Cetak gol, dan tidak kebobolan.” Nalar sehat berbisik: “Lebih baik clean sheet tapi tak mencetak gol, dibanding mencetak gol tapi jala gawang bergetar berkali-kali. Sakit rasanya. Tak percaya? Silahkan tanya ke Gianluigi Buffon apa yang dirasakannya pada tanggal 1 Juli 2012 di Olympic Stadium, Kiev.” (soe)

Happy Birthday!!!

Nama Negara Tanggal Lahir Posisi
Fernando Muslera Uruguay 16 Juni 1986 Goalkeeper
Shusaku Nishikawa Jepang 18 Juni 1986 Goalkeeper
Francis Benjamin Nigeria 20 Juni 1993 Defender
Pablo Barrera Mexico 21 Juni 1987 Midfielder
Jean Brasil 24 Juni 1986 Defender

Adiksi Aksi-Aksi di Piala Konfederasi

FIFA Confederations Cup adalah turnamen sepakbola berumur lima tahun saat diadopsi FIFA dari Arab Saudi yang membidani lahirnya pada tahun 1992 dan memberinya nama King Fahd Cup pada awalnya. Sebelum diadopsi FIFA, sempat dua kali Arab Saudi menyelenggarakan King Fahd Cup pada tahun 1992 dan 1995. Saat diambil alih FIFA, turnamen ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali.

Batistuta 1992_taringa.net

Gabriel Omar Batistuta – sumber: taringa.net

Gelaran perdana Piala Konfederasi diikuti empat negara: Argentina, Amerika Serikat, Pantai Gading, dan tuan rumah. Dengan materi tim seperti Gabriel Batistuta, Claudio Caniggia, Diego Simeone, dan Fernado Redondo, Argentina membawa pulang piala setelah mengalahkan tuan rumah 3-1 di final turnamen yang menggunakan format straightforward four-team ini. Peringkat tiga diraih Amerika Serikat yang menggulung Pantai Gading 5-2, setelah keduanya mengalami kekalahan di pertandingan pertama: Amerika Serikat kalah 0-3 dari tuan rumah dan Pantai Gading menyerah 0-4 dari Argentina.

Tiga tahun kemudian, kali ini juara Piala Eropa 1992 berpartisipasi. Laudrup bersaudara berhasil mengawinkannya dengan Piala Konfederasi, setelah di final mengalahkan juara bertahan dengan skor 2-0. Perhelatan tahun ini menambah dua peserta, yang mengakibatkan format berubah menjadi dua grup: para juara grup langsung ke final, sementara para runner-up grup memperebutkan peringkat tiga turnamen yang dimenangkan Mexico melalui adu penalti melawan Nigeria. Dua wakil Asia: tuan rumah dan Jepang, menghuni dasar klasemen di masing-masing grup.

Tahun 1997 adalah kali pertama penyelenggaraan dengan nama FIFA Confederations Cup. Masih Arab Saudi sebagai tuan rumah. Sesuai dengan namanya, tiap juara di masing-masing konfederasi (Oseania, Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan) hadir di turnamen ini dan digenapkan menjadi delapan negara oleh tuan rumah serta juara bertahan Piala Dunia edisi sebelumnya.

Australia jawara Oseania tahun 1996, Afrika Selatan jawara Afrika tahun 1996, Mexico jawara Piala Emas CONCACAF tahun 1996, Uruguay jawara Copa América tahun 1995, dan Brasil juara dunia tahun 1994. UEA yang merupakan runner-up Piala Asia tahun 1996 mewakili AFC dikarenakan sang jawara Asia saat itu adalah sang tuan rumah. Sedangkan jawara Piala Eropa tahun 1996: Jerman, menolak berpartisipasi, sehingga diwakili Republik Ceska yang merupakan runner-up Piala Eropa.

Romario 1997_fifa.com

Romario (11) – sumber: fifa.com

Final di penyelenggaran tahun 1997 memegang rekor tersendiri sebagai skor final terbesar turnamen sejauh ini. Hat-trick Ronaldo dan Romário ke gawang Mark Bosnich menenggelamkan Australia di final yang dipimpin oleh wasit asal Thailand. Australia gagal mengulangi prestasi di babak grup dimana mereka menahan imbang Brasil 0-0. Terlepas dari kartu merah yang diterima Mark Viduka di menit 24’, skuat Brasil saat itu memang diisi generasi emas seperti: Dida, Cafu, Aldair, Roberto Carlos, Dunga, dan Juninho. Tengok pula dogout Brasil sewaktu final, duduk santai disana Rogerio Ceni, Ze Roberto, Leonardo, Bebeto, dan Rivaldo.

Penggemar sepakbola generasi 90-an yang masih belum bisa move on dari masa itu tentu masih sangat mengingat Vladimir Smicer, Cuauhtemoc Blanco, Pavel Nedved, Harry Kewell, Alvaro Recoba, John Aloisi, dan Marcelo Zalayeta. Oh….. indahnya masa-masa itu 🙂

Dua tahun kemudian, Mexico menjadi tuan rumah pertama di luar Arab Saudi. Kali ini Jerman bersedia berpartisipasi, adapun para peserta lain: Arab Saudi, Selandia Baru, dan Mesir. Runner-up Piala Emas 1998: Amerika Serikat mewakili zona CONCACAF dikarenakan Mexico sebagai juara bertindak sebagai tuan rumah. Mengikuti jejak Jerman di edisi sebelumnya, juara dunia tahun 1998 menolak berpartisipasi dengan alasan tak dapat menurunkan skuat terbaik dikarenakan klub-klub tempat bernaung pemain tak mau melepas pemain membela negaranya karena risiko kelelahan hingga cedera. Jatah turun ke runner-up Piala Dunia. Siapa yang kebagian rezeki? Bolivia: runner-up Copa América tahun 1997 mewakili CONMEBOL menggantikan tempat Brasil.

Trofi_newsimg.bbc.co.uk

Trofi – sumber: newsimg.bbc.co.uk

Tuan rumah menjadi juara setelah menang 4-3 atas Brasil. Arab Saudi kalah 0-2 di perebutan tempat ketiga dari Amerika Serikat. Beberapa rekor di turnamen kali ini antara lain sepuluh gol tercipta di waktu normal saat Brasil menyingkirkan Arab Saudi, yang sempat menyamakan kedudukan 2-2, di semifinal. Rekor lain yang belum dilampaui bahkan diulangi hingga saat ini adalah dua quat-trick di Grup A. 25 Juli 1999, Cuauhtemoc Blanco seakan mengajarkan pemain Arab Saudi bagaimana caranya mencetak empat gol untuk kemenangan 5-1. Empat hari berselang, hasil belajar dari Cuauhtemoc Blanco langsung dipraktekkan Marzouk Al-Otaibi saat mencetak quat-trick pada kemenangan Arab Saudi 5-1 atas Mesir.

Piala Konfederasi di milenium baru digelar di benua Asia. Korea Selatan dan Jepang tuan rumahnya. Gol Patrick Viera di menit 30’ ke gawang Yoshikatsu Kawaguchi menjadi satu-satunya gol yang dapat membawa pulang Piala Konfederasi untuk disandingkan dengan Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Perancis menjadi tim kedua setelah Brasil yang dapat secara beruntun memenangkan kejuaraan dunia, benua, dan antar benua.

Jerman kembali menolak berpartisipasi mewakili konfederasi UEFA, kali ini dengan status sebagai runner-up Piala Dunia 2002. Sebagai tuan rumah dan juara Piala Eropa 2000, Perancis otomatis berpartisipasi. Setali tiga uang dengan Jerman, Italia sebagai runner-up Piala Eropa 2002 juga menolak berpartisipasi. Spanyol yang saat itu berada di rangking kedua FIFA juga sama. Akhirnya Turki sebagai peringkat ketiga Piala Dunia 2002 yang mewakili UEFA.

Foe_storiedicalcio.altervista.org

Foe – sumber: storiedicalcio.altervista.org

Perancis mengulangi prestasi Mexico di tahun 1999: menjadi juara di rumah sendiri. Kemenangan ini sekaligus mengobati performa buruk mereka di Piala Dunia 2002. Satu-satunya gol Thierry Henry di babak pertama extra time ke gawang Kamerun semakin menambah kesedihan setelah tiga hari sebelumnya mereka kehilangan Marc-Vivien Foé yang meninggal saat sedang bermain di semifinal melawan Kolombia.

Brasil mengulangi final Copa América 2004 saat bersua Argentina di Piala Konfederasi 2005 yang diselenggarakan di Jerman. Bedanya jika di Copa América 2004 Brasil harus diselamatkan gol Adriano di menit 93’ untuk sampai babak adu penalti guna menjadi juara, maka di Piala Konfederasi 2005 Brasil dengan meyakinkan menggebuk Argentina dengan skor mencolok 4-1. Sebaliknya tuan rumah bersusah payah mengalahkan Mexico di perebutan tempat ketiga setelah gol Michael Ballack di menit 97’ memastikan kemenangan Jerman. Sejak edisi ini, Piala Konfederasi diselenggarakan empat tahun sekali dengan penyelenggaraan satu tahun sebelum Piala Dunia yang bertempat di tuan rumah Piala Dunia

Di tahun 2009, Afrika Selatan menjadi tuan rumah pertama di benua Afrika yang menyelenggarakan Piala Konfederasi. Brasil menjadi tim kedua setelah Perancis yang mampu memenangkan Piala Konfederasi secara beruntun. Satu gol Lúcio melengkapi dua gol Luis Fabiano, yang menjadi top skorer turnamen dengan lima gol, yang membawa kemenangan atas Amerika Serikat 3-2. Sedangkan tuan rumah berada di peringkat empat setelah dikalahkan Spanyol.

Logo Confederations Cup 2013_wikipedia

Brasil 2013 – sumber: wikipedia

Partai Brasil melawan Jepang pada tanggal 15 Juni 2013 akan menandai dibukanya edisi ketujuh Piala Konfederasi yang akan digelar hingga tanggal 30 Juni 2013. Spanyol, Mexico, Uruguay, Tahiti, Italia, dan Nigeria melengkapi delapan negara peserta. Akankah Brasil menjadi salah satu tim yang akan bertanding di partai terakhir turnamen? Yang berarti memperbesar peluang mereka menjadi juara tiga kali Piala Konfederasi secara beruntun. Yang juga berarti tetap menyimpan trofi Piala Konfederasi hingga tahun 2017 saat digelar kembali di Rusia. (soe)

Post Navigation

%d bloggers like this: